Senin, 26 Juli 2010

Negeri yang Kaya bernama Indonesia


Jangan mungkir lah kamu, Indonesia itu kaya kan? Betul, tapi orang Indonesianya miskin-miskin. Harus dibedakan atuh. Indonesia ini ibarat tanah luas yang bisa ditanami berbagai jenis pohon (bisa duren, beringin, jeruk dlsb), di dalam tanahnya ada pula harta karun. Kebetulan di sebidang tanah tersebut tersedia mata air. Di tengah tanah tersebut, ada gubuk yang penghuninya seorang petani dan buruh yang banyak anak. Petani itu baiiiiik banget, ramah dan lugu. Siapapun dipersilahkannya berkunjung dan kalau mau dipersilakannya para tamu ngambil buah, ambil air, atau mau gali tanah sekalipun, yang penting petani dapat jatah sedikit buat beli nasi. Para tamu tentu saja makin kaya, diantara mereka ada yang membangun rumah baik yg minta izin maupun nggak. Sang Petani tetap miskin..sampai suatu saat ia tersadar. Inilah gambaran Indonesia kita. Kita, warga Indonesia dari dulu juga tau kalau Indonesia ini negeri yang kaya, gemah ripah loh jinawi..tetapoi kita baru membahas dan mengetahui kalau negerinya kaya, dia belum tau bagaimana caranya agar kekayaan tersebut jadi modal, agar dirinya menjadi kaya.

Kita baru bisa mempersilakan orang-orang pinter dari negeri jiran untuk memanfaatkan dengan syarat kita dapat bagian, yang dimaksud kita disini tentu saja bukan semua orang, tetapi beberapa orang yang merasa berhak menyewa-nyewakan tanah-tanah di negeri ini. maka yang kena imbaspun yaa yang kita yang sedikit itulah. Jadi wajar kalu kebanyakan masyarakat Indonesia masih berada jauh di bawah garis kemiskinan. Kalau kita berkaca pada teori dasar perekonomian, bahwa ekonomi tidak jauh dari masalah mengelola sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, maka masalah besar bangsa kita adalah BAGAIMANA MENGELOLA SUMBER DAYA ALAM YANG KAYA INI?

Saya rasa, yang menjadi masalah besar bangsa Kita adalah Kemandirian..kita tidak berani berdiri tegak sendirian tanpa campur tangan asing terutama negara adi kuasa, karena kalau masalah SDM, kita memiliki SDM yang sangat cukup, modal cukup, yang kurang adalah kemampuan mengelola. Kemampuan manajerial. (ah pusing ah..)
ga nulis dulu ah berhubung lagi ulang taun (resmi mode on)

Kamis, 22 Juli 2010

Tugas Pemerintah


Bicara masalah Pemerintah (Hukumah), Sistem Pemerintah itu dibangun berdasarkan pada 3 pilar utama, yaitu:
1. Akuntabilitas Pemerintah;
2. Menjunjung tinggi aspirasi rakyat;dan
3. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Maka kemampuan pemerintah mengatasi persoalan-persoalan negerinya dapat bertolak pada kesiapan menegakkan pilar-pilar ini. Permasalah yang menimpa suatu negeri--selain masalah eksternal diluar kekuasaan manusia spt bencana alam--dipengaruhi oleh kesiapan pemerintah memberikan bukti berdirinya pilar-pilar yang disebut diatas. Ketika ada krisis yang menimpa salah satu pilar maka bisa dikatakan pemerintahan tersebut sedang mengalami masalah.

Akuntabilitas Pemerintah artinya pemerintah yang bertanggungjawab, tindakannya teruji, memenuhi standar. Pemerintah yang memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya, berbuat adil sehingga dapat melindungi seluruh lapisan masyarakat. Inilah jantung reformasi sosial secara keseluruhan. Jika pemerintah rusak maka semua urusan menjadi berantakan. Tapi, jika pemerintahan baik, maka semua urusan menjadi baik pula. Disini, tugas seluruh elemen masyarakat untuk mengingatkan pemerintah agar melakukan reformasi dan menghimpun segala potensi kebaikan agar berpedoman pada petunjuk agama dalam merealisasikannya.

Memperhatikan aspirasi masyarakat adalah gambaran pelaksanaan proses saling manasihati, amar ma'ruf nahyi munkar sebagai karakter masyarakat terbaik yang dilahirkan di tengah manusia. Tidaklah mengapa apabila sistemnya menggunakan sistem perwakilan seperti di kebanyakan negara, atau sistem majlis syuro sepanjang para wakil ini membawa kepentingan dan aspirasi masyarakat. Pemerintah dan pemimpinnnya dapat melaksanakan aktivitas mendengar langsung keluhan masyarakat seperti Umar bin Khathab yang terbiasa keliling mendengarkan aspirasi masyarakatnya.

Terakhir, kemajuan tidak mungkin dapat dicapai di tengah masyarakat yang bertikai. Kondisi yang damai antara berbagai bangsa dan kelompok masyarakat akan membawa ketenangan dan menjadi wahana yang baik untuk tumbuh suburnya kemakmuran. Bukti sejarah telah menunjukkan bahwa sebuah negara yang didalamnya memendam konflik etnis, kecemburuan sosial karena agama dan ekonomi akan merasakan sumbatan pembangunannya.

Tidak ada suatu yang lebih menggugah hati, menyakiti perasaan dan mengiris hati selain tekanan ekonomi. Kekurangan bahan makanan dan fenomena turunannya akan membawa kesusahan yang kronis terhadap kehidupan bernegara. Karenanya, adalah tugas pemerintah memimpin warga negaranya untuk menciptakan keadaan yang kondusif bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat. Cara ideologi materialisme yang menekankan pada individualisme tidak cocok dengan fitrah manusia, negara harus berperan dalam menjaga batas-batas yang harus dipatuhi masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan ekonominya.

Ada beberapa realitas ekonomi negara-negara muslim yang harus mendapatkan perhatian serius diantaranya:
1. Pengelolaan Kekayaan Sumber Daya Alam
2. Menolak Eksploitasi dan dominasi asing
3. Meminimalisir kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin
4. Memperbaiki ideologi ekonomi yang dianut

Insya Allah kita bahas lain kali ya....

Maroji: An Nizham al Iqtishodi

Berjualan 'kenekatan'


Kalau ada yang bilang kepadamu bahwa berdagang, berbisnis itu mudah, maka percayalah bahwa orang tersebut belum pernah ngerasain jualan. Bisnis itu ngga ada yang mudah. Semua butuh usaha dan ketekunan. Para pebisnis awal sering mengalami masalah tentang barang dan jasa apa yang akan dijual, bagaimana dan dimana menjualnya, darimana modal awalnya dan lain-lain. Bisnis memang sulit, makanya hanya sedikit orang yang betul-betul bercita-cita jadi pedagang, tapi profesi ini menjanjikan kemakmuran sungguh, kemakmuran yang membebaskan. "Tijaarotan lan tabuur" perdagangan yang tidak pernah merugi adalah puncak dari perdagangan, yaitu perdagangan dengan Allah, dalam bentuk menyerahkan diri sebagai pejuang yang mempersembahkan sesuatu paling berharga yakni nyawanya, atau orang yang memberikan qordhul hasan (pinjaman yang baik) kepada Allah dalam bentuk harta untuk perjuangan. Bayangkan 'nyawa' yang dipertaruhkan adalah puncak kenekatan. Dengan ilmu, kenekatan ini adalah kenekatan yang terukur.

Mengerjakan sesuatu yang benar-benar baru, membutuhkan kenekatan (iya toh). Maka berdagang butuh jenis keberanian ini. Setiap individu harus memahami konsep perdagangan ini sebagai cara paling sehat mencari rezeki yang halal. Penuh ketawakalan. bandingkan dengan pekerjaan menjadi pegawai atau sejenisnya. Berdagang lebih membutuhkan struggle. Keberanian (as saja'ah) dalam konsep Islam lahir dari aqidah yang salim, dia merasa tenang (itmi'nan) dengan kekuatan keyakinan tersebut. Dan Keberanian serta it'minan tadi adalah buah dari tarbiyah (pendidikan). Nah..tugas pemerintah tuh menyiapkan sistem pendidikan yang membuat masyarakatnya mandiri, menyediakan sarananya dan menjaga aturan dan hukum agar tegak dan ada kepastian.

Jadi..sekecil apapun marilah kita berbisnis, karena dengan cara tersebut kita bisa memproduktifkan karunia Allah yang diberikan kepada kita.

Selasa, 20 Juli 2010

Menanggulangi Kemiskinan? Bisnislah!


BPS (Biro Pusat Statistik) melaporkan bahwa angka kemiskinan Indonesia pada tahun 2010 mencapai 13,5 persen, tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya yang 'mengukir' angka 14,15 persen atau setara 32,53 juta jiwa.


Sungguhlah ironis negara kita ini, negara yang dalam lagu Rayuan Pulau Kelapa begitu menggoda karena indah dan kayanya, atau dalam lagu Koes Plus, yang ajaib mengandung kekayaan begitu banyak tergolong negara yang sulit keluar dari kemiskinan. Hey lihat lah lihat Mang Edod penjual limun sejak saya SD sampai sekarang bertahan berdagang limun dengan omzet yang luar biasanya tetap saja. Bedanya, kalau dulu waktu SD saya bisa beli limun seplastik sekitar 10 perak sekarang harganya seribu lah, tak lain karena pengaruh inflasi. (itu bukan kata si Emang; mana tahulah Mang Edod dengan istilah inflasi). Pastilah angka kemiskinan sebenarnya lebih banyak dari itu, karena yang disebut orang miskin di Indonesia itu adalah yang penghasilannya kecil banget sehingga tidak cukup untuk makan layak sekeluarga, pendidikan rendah setingkat SD dan rumah yang selalu nyewa/ngontrak atau membangun di tempat liar yang siap gusur. Padahal di negeri ini banyak pula sebangsa lulusan S1 yang masih antri untuk dilantik atau ujian jadi PNS (dan sementara ini mereka nganggur atau bekerja serabutan yang tidak sesuai dengan nurani cita-cita mereka). Sebangsa ini juga banyak yang tergolong bangsa miskin istilah kerennya Fuqoro Masakini. Miskin siih, tapi pendidikannya tinggi.

Pastilah bangsa ini sulit menjadi kaya, kalau masyarakat yang paling diperhatikan kemajuannya adalah masyarakat 'tertentu' yang punya pabrik-pabrik yang sangat diharapkan dapat membuka lowongan pekerjaan untuk kaum buruh dan babu. Pastilah yang kaya di negeri ini adalah orang yang bekerja di bank dan memanfaatkan pengetahuan lebihnya terhadap teknik bunga membunga untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan, atau sebangsa pegawai pajak yang bisa nyambi sebagai 'konsultan' pajak, memberi saran pembayaran pajak yang minim asal ada saldo yang mampir di rekening mereka yang haram, atau jadilah polisi lalu lintas atau polisi yang lalu lalang yang dapat tanbahan income dari hasil palak di pinggir jalan dengan istilah 'sidang di tempat' atau dari jasa menjadi makelar untuk kasus-kasus. Pastilah itu gede duitnya. Atau para rezim politikus yang mati-matian terus menetap dalam jajaran struktur agar tetap punya peluang menjadi anggota dewan--yang nikmat--atau menjadi pejabat publik hasil pilkada. Kalo perlu, tidaklah mengapa loncat-loncat partai demi mempertahankan 'idealisme'.

Hah..tapi sodara-sodara, itu bukan solusi. Semua pekerjaan diatas adalah pekerjaan kepegawaian. Yang nilai tambahnya akan sedikit karena tidak ada hubungannya antara unjuk kerja dengan penghasilan. Bukankah pegawai rajin dibayar tidak lebih besar daripada pegawai malas? lagipula mencari tambahan dengan cara-cara di atas tadi haram adanya. Lalu-lalu? bagaimanakah solusinya?

BISNIS..Bisnislah jawabannya, pekerjaan berdagang adalah pekerjaan yang paling banyak menghasilkan nilai tambah, karena dengan berdagang kita telah melakukan langkah distribusi dan pelipatgandaan nilai barang. Islam mengajarkan bahwa pencarian nafkah harus disertai dengan kejujuran, dengan mengelola sumber daya meningkatkannya, memindahkannya, meng-up gradenya menjadi lebih baik dan bernilai, maka nilainya akan semakin besar. Setiap tambahan nilai itu akan menjadi tsawab.

Bagaimanakah cara Rasulullah dulu menciptakan kemakmuran lahir dan batin? tentu darisana kita dapat mengikuti jejaknya.
PERTAMA, Diciptakanlah SDM-SDM yang mumpuni sesuai fitrahnya. SDM yang mumpuni dalam berbagai sudut pandang, integral, syamil, mutakamil. Ditanamkanlah nilai-nilai tauhid sehingga lahir individu yang seimbang antara iman, takut dan harapnya kepada Allah. Yang berjuang dengan visi yang jelas, menciptakan kebaikan di dunia dan akhirat. Maka setiap elemen, Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat, siapapun harus mengerahkan seluruh energinya pada penyiapan SDM yang mumpuni ini. Apa profesi penduduk Muslim pada saat itu? mereka ada yang menjadi ulama, petani (mungkin juga nelayan), pandai besi, mungkin pegawai tapi yang terbanyak dan menduduki strata paling tinggi adalah para Pedagang. Pedagang ini menjadi penyumbang terbesar dana perjuangan sehingga kemajuan bisa diraih. Mereka bangsa yang dinamis, yang siap mengajarkan kebaikan dan mencegah keburukan-keburukan.

KEDUA, Menciptakan Struktur Pemerintahan yang Melindungi dan Menjamin terlaksananya Hukum dengan Baik. KETIGA, Hubungan Luar Negeri.


Masyarakat Pedagang

Membangun itu memulai dari bawah, dari individu sebagai entitas terkecil. Membangun jiwa kemandirian pada setiap individu secara iqtishod, siyasi dan lain sebagainya akan melahirkan generasi yang siap menjadi pemimpin peradaban. Maka dengan memulai memberikan pendidikan, karakter mandiri, kesempatan berusaha yang maksimal akan melahirkan keluarga-keluarga entrepreuneur yang mandiri, yang tidak mudah tergoyahkan aqidahnya. Keluarga ini adalah keluarga yang memahami syariat dan melaksanakannya dengan konsisten. Bangsa kita harus mereformasi sistem pendidikan, menjadi sebuah sistem yang membina masyarakatnya secara menyeluruh. Yang memiliki karakter Aqidahnya Selamat, Baik Ibadahnya, Kokoh Akhlaknya, Kuat Jasadnya, Mendalam Ilmunya, Memberi manfaat untuk orang lain, Rapi dalam urusannya, menghargai waktu, Memiliki Penghasilan (dan yang terutama dari bisnisnya), dan Tangguh dalam Berusaha. Dari individu-individu yang lengkap seperti ini jangan heran kalau dalam waktu 20 sampai 30 tahun ke depan bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat.
[dago]

Antara Needs dan Wants (bag 1)


Saya butuh mandi, saya butuh makan, saya butuh tidur. Mandi, makan, tidur sebagaimana uang, udara dan toilet adalah kebutuhan (needs). Kalau mau agar rumit Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan makhluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi alasan manusia bekerja atau berusaha. Rumit kan? (itulah tugas pelajar, membuatnya jadi rumit, agar kelihatan ngilmiah). Di buku-buku pelajaran ekonomi selalu saja diperkenalkan bahwa kebutuhan itu sifatnya tidak terbatas, sebaliknya dihadapkan pada sumberdaya yang ketersediaannya terbatas (untuk melengkapi aksioma ini ada konsep kelangkaan).

Benarkah kebutuhan itu tidak terbatas? sementara sumberdaya itu langka maka terbatas?

Sumber Daya Alam (SDA)
Sumber daya alam adalah segala sarana yang dibutuhkan manusia untuk menjalani aktivitas kehidupannya. Sarana tersebut disediakan secara gratis oleh Allah swt. Ga percaya gratis? kalau mau ikan, pergilah ke laut, tangkap ikan sendiri. mau daging? pergilah ke hutan tangkap itu rusa sendiri, tebanglah pohon, ambillah buah-buahan dan apapun, semuanya gratis ga bayar. Tapi kalau kamu mau ikan yang dipasar maka bayarlah biaya kerja mengailnya dan biaya ngangkut ke pasar. Sebagai pencipta Yang Maha Sempurna, maka sudah tentu kalau sumber daya yang tersedia ini cukup adanya. Kalau kalian merasa kurang, maka itu adalah salah kamu sendiri, kenapa merasa kurang dan kekurangan. Untuk pengelolaan alam ini Allah tetapkan manusia sebagai khalifah dan manager. manajer yang baik akan membuat semua sumber daya terkelola dan terdistribusi dengan baik. kalau kekurangan bahkan jadi langka, maka itu adalah tanda ada 'salah urus'. Allah swt berfirman, "Telah nyata kerusakan di lautan dan di daratan karena perbuatan manusia", nyata bukan? adalah salah kita kalau ada yang salah urus. Maka tugas kita adalah bagaimana menjadi khalifah atau manajer yang baik. Ilmu manajemen adalah ilmu yang wajib bagi seorang muslim pemimpin. Kalian semua adalah pemimpin, begitu kata Rasul. Berarti kalian semua harus menjadi manajer yang baik. Urus itu alam dan sumber dayanya dengan sebaik-baiknya, agar kalian makmur. Tugas kalian kan memakmurkan bumi.

Tidak ada perdebatan lagi, bahwa sumber daya alam ini cukup. Apakah kita harus mengatur jumlah penduduk untuk mengatur jumlah orang yang memakai sumber daya alam?

Pentingnya Bekerja
Nah..untuk memenuhi kebutuhan seperti yang tadi disebutkan maka manusia harus bekerja dan berusaha, sedang hewan saja butuh berusaha mencari makan, masa kita tidak? Masalahnya, apakah betul kebutuhan itu tidak terbatas? Apakah kamu butuh tempat tidur lebih dari dua meter persegi? cukup kan? Tapi kamu ingin yang lebih besar? Itu keinginan, yang lebih-lebih itu keinginan.

So, kebutuhan itu adalah kadar kecukupan dan ia terbatas, sementara keinginan untuk mendapatkan lebih maka itu adalah keinginan. Kebutuhan harus dipenuhi sementara keinginan harus dikendalikan. Jika kita mendapatkan rezeki lebih daripada yang kita butuhkan maka itulah kekayaan dan sebaiknya didistribusikan dalam bentuk zakat dan sedekah. Bicara iqtishod di dalam Islam tidak akan bisa melepaskan diri dari hukum-hukum agama, karena ia adalah integral. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Secara agregat atau akumulatif pemenuhan kebutuhan juga sebetulnya cukup, tetapi butuh pengelolaan dan pengaturan, inilah tugas kekhalifahan itu. Maka keadilan harus ditegakkan agar kesejahteraan bisa digapai. (bersambung)

Drunken "Pidi Baiq" Monster


Awal juli lalu adik ipar saya menikah lalu dibawalah oleh suaminya pindah ke rumah suaminya yang Doktor itu, tidak perlulah anda tersinggung kalau anda tidak diundang, toh anda tidak kenalkan? Lagian yang menikah kan bukan saya. Singkat cerita, diantara tumpukan buku adik saya itu ada buku 'Drunken Monster' dan 'Drunken Molen'(mengenai judulnya yang diawali dengan Drunken saya tidak pernah mempermasalahkannya walaupun mabuk itu diharamkan agama, toh Pidi tidak betul-betul menganjurkan kemabuk-mabukan).


Entahlah kenapa saya berharap bahwa tulisan yang ada di buku-buku tersebut adalah kisah nyata, saya juga tidak mengerti kenapa begitu mengharapkan ada orang yang 'rada gila' tapi dapat menyampaikan pesan yang baik-baik. Karena saya ingin disiplin bicara tentang Iqtishad maka saya suka sama Haji Pidi yang begitu baik hati membagi-bagikan uang. Pidi bilang alasannya adalah karena dia memang sudah kaya jadi tidak perlulah itu berhemat-hemat, karena toh dia udah dapat pangkalnya. Karena saya baik, maka saya akan merekam kebaikan Pidi dalam hal bagi-bagi uang. Pidi memberi uang lembaran 50.000 pada petugas cleaning service yang ngasih tau kalau udah BAB itu harus pijit tombol untuk menyiram sisa buangan, ngasih tukang ojeg yang mau ngantar nyari Dukun Nyegik fiktif di daerah Dago Atas, negasih tukang rujak uang waktu mau ngambilin kunci mobil yang tertinggal di dalam, memborong dagangan surabi, dan lain lain, pokoknya kalau benar Pidi itu seperti dia adanya, hebatlah, baik banget.

Dalam konsepsi kita, apa yang dilakukan Pidi adalah gerakah sedekah, filantropi atau apapun jua namanya yang jelas ini adalah kebaikan. Sebagaimana yang sering dikampanyekan oleh seorang ustadz (siapa namanya? koq saya lupa ya) bahwa sedekah akan menghasilkan berlipat-lipat balasan dari Allah. Uniknya Pidi tidak mengatakan bahwa kebaikannya itu dalam rangka menghadirkan pembalasan dari Allah yang berlipat-lipat. Memang, kalau mau berbuat baik mah yaa berbuat sajalah, motivasi mendapatkan balasan sama saja dengan cara beribadahnya pedagang, tidak mau jualan kalau tidak untung.

Sedekah atau kebaikan sejenis kepada sesama akan menyebabkan distribusi kekayaan mengalir secara bagus, kesenjangan dan kecemburuan karena mendapatkan rezeki yang berbeda akan terkikis. Beginilah seharusnya cara seorang muslim bersyukur atas karunia rezeki dari Allah swt. Kalau zakat mempunyai unsur pemaksa agar sistem bergulir dengan baik, (yang namanya hukum memang harus memiliki kekuatan memaksa), maka bersedekah adalah gambaran tauhid seseorang bahwa harta itu adalah memang milik Allah, kita sekedar dititipi, makanya kita tidaklah perlu merasa rugi andai rezeki itu bergulir ke tangan orang lain lewat kita, bahkan harus merasa untung, karena kita menjadi jalan kebaikan untuk orang lain. Barangsiapa yang menjadi jalan kebaikan untuk orang lain, maka ianya akan mendapat pahala yang berlimpah.

Murah hatinya seseorang mengeluarkan harta adalah gambaran kezuhudan, tidak terlalu bergembira ketka rezeki datang dan tidak bersedih ketika harta harus dikeluarkan. Bukankah ini sistem yang cantik dalam Iqtishod? tidak akanlah lagi Bang Haji Rhoma bersenandung miris "Yang kaya makin kayaaa yang miskin makin miskin". jadi banyak hal yang dapat kita catat dan camkan betapa kemurah hatian adalah salah satu pondasi yang penting seorang muslim dalam membangun kemakmuran tauhid dan hartanya. Bravo Bang Pidi..ikhlas yaa. Ke Drunken-an Pidi harus menjadi cambuk buat kita, karena angka kemiskinan kaum muslim masih menunjukkan angka yang besar, tidak perlu riset-riset yang susah untuk mengetahui bahwa yang tercitrakan kaya adalah negara-negara Barat yang belum Islam (semoga mereka segera diberi hidayah), sedangkan Arab yang kaya (syeikh Arab mulai mencaploki klub-klub sepakbola di Inggris) belum menunjukkan sebagai kekayaan umat Islam, tapi justru gambaran ketimpangan yang sesungguhnya. Di tengah gelimangan harta mereka, masih banyak orang yang kelaparan. Seandainya ada distribusi kekayaan ke kantong-kantong kemiskinan di negeri muslim tentunya akan membuat kemiskinan kronis di negara muslim akan terkikis habis. Ahh tapi mereka kan bukan bang Pidi.. namanya tidak pake Baiq pula [tubagus ismail]

Bismillah, Memulai lagi

Bismillah, saya akan mulai lagi menulis di blog ini. Awalnya blog ini akan saya buat khusus untuk menuliskan pikiran saya mengenai ekonomi. Sebisa-bisanya saya sajalah, tidak usahlah itu memaksakan diri. Tapi karena ekonomi dalam pandangan Islam tidak pernah terlepas dari masalah akhlak atau masalah tantangan hidup keseharian, maka cukup eloklah juga apabila saya tambahkan dari renungan-renungan sehari-hari. Untungnya, blog saya ini saya nyatakan tidak sah sebagai referensi, jadi kamu jangan protes dengan apapun pikiran yang saya curahkan disini, okey? deal?

Membaca dan menelusuri buku "Ilusi Demokrasi" karya Zaim Saidi dan tulisan-tulisan Syekh Abdal Qadir Ash Shufi dan muridnya Dr Umar Vadillo, mendorong saya untuk ikut juga berperan serta menelaah dan mendalami bab yang satu ini. Nyatanya memang Iqtishod bukanlah bagian yang terkotak-kotak dalam ajaran Islam. Melaksanakan rukun zakat secara sempurna misalnya, akan memberikan dampak yang strategis buat bangunan Islam secara keseluruhan.

Saya harus mulai berdisiplin, disiplin hanya memasukkan masalah iqtishad dan pernak-perniknya di blog ini, tanpa harus secara narsis menampilkan hal-hal yang bersifat pribadi, tidak perlulah itu, karena tidak ada sesuatu yang spesial dari diri saya. lagian apa anda mau repot-repot melihat atau diganggu dengan masalah pribadi saya.

Akhir-akhir ini saya sedang terpengaruh oleh buku gilanya H Pidi Baiq, tentang "Drunken Monster" dan "Drunken Molen" jadinya saya menulis dengan perasaan lebih senang hati, tapi tidak perlulah itu dibahas terlalu jauh, toh penerbit juga sudah memperingatkan saya kalau buku-buku tersebut memang berbahaya.

Mudah-mudahan tulisan-tulisan saya ini tidak akan menyakitkan otak ilmiah anda, terutama para ekonom yang sudah mapan, toh saya membuat judul blog ini Iqtishoduna, jadi ngga ada hubungannya dengan anda kan?

[dago, 20 Juli 2010]