Selasa, 08 Maret 2011

Kapasitas Manajemen Penyelenggara Negara



Definisi Managemen
Mary Parker Pollet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan mengenai orang lain. Stoner mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Key words disini adalah proses, sebuah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Sehubungan dengan kapasitas penyelenggara negara kita, mampukah mereka melakukan pekerjaan tersebut?

Saya yakin diantara yang mampu menjalankan manajemen secara efektif adalah kalangan manager swasta, mungkin karena profit oriented yang dimiliki perusahaan swasta. Beberapa teknik terbaru dalam bidang manajemen dengan cepat dapat diterapkan di perusahaan swasta. Bagaimana dengan perusahaan atau lembaga pemerintah?

Kiyosaki mengatakan bahwa diantara jenis pekerjaan yang aktivitas kerja tidak berbanding lurus dengan hasil, adalah Pegawai Negeri Sipil. Dengan posisi ini, mungkin para PNS berpikir bahwa 'saya sibuk atau nganggur tetaplah tak akan mengubah besar gaji saya'. Kondisi inilah yang menyebabkan kinerja birokrat relatif mandeg dan homogen. Ukuran-ukuran kesuksesan birokrat seringkali tergantung hal yang bersifat politis. Akhirnya, tarik menarik kepentingan menjadi credo dalam manajemen para Pegawai Negeri Sipil.

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA)

Digugatnya Gasibu baru-baru ini telah menyadarkan kita semua betapa aset-aset yang dimiliki pemerintah tidaklah aman, belum lagi keterbengkalaian aset-aset di daerah di seluruh Jawa Barat. Berdasarkan survey aset yang dilakukan banyak aset-aset di daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah tidak terkelola dengan baik, jangankan menghasilkan pendapatan untuk Pemprov, keberadaan secara legal formal pun menjadi tanda tanya.

Beberapa BUMD yang menguasai aset-aset daerah harus didorong untuk mengefisienkan dan meningkatkan kemampuannya memberikan profit untuk pemerintah sebagai pemegang saham perusahaan-perusahaan tersebut. Penanganan BUMD yang terkesan asal-asalan dan tidak profesional menyebabkan dari tahun ke tahun tidak dapat mencetak laba bahkan menjadi beban Pemerintah karena terus menerus disuntik penyertaan mnodal sampai mnilyaran rupiah. Diantara BUMD yang disorot adalah PD Jawi yang menguasai 144 aset daerah belum dapat memberikan feedback yang optimal dengan penyertaan Pemda sebesar 48 milyar.

Dengan penguasaan aset bernilai sekira 7 triliunan, Direksi PD Jawi harus bekerja secara profesional. Mengatasi handicap yang selama ini menjadi penghambat kemajuan. Diantara strategi tersebut bisa diterapkan Sistem Informasi Pengelolaan Aset. Dengan sebuah program terpadu maka aset-aset yang terlantar serta tidak memberikan keuntungan dapat direvitalisasi. Dengan sistem berbasis GIS (geografical Information System) ataupun berbasis web, maka direksi akan memiliki asupan informasi yang akurat dan cepat untuk kemudian dieksekusi menjadi sebuah kebijakan manajemen. Dengan langkah ini, maka penyelenggaraan manajemen akan bergerak menjadi dinamis serta profesionalisme akan lebih mudah ditampakkan ke permukaan.

Hambatan psikologis yang menganggap bahwa jika mengelola BUMD berada pada zona nyawan yang tidak perlu dinamis harus segera didobrak. Pihak Direksi yang tak mau repot dengan menjalankan teknologi baru yang akan 'menambah' pekerjaan dan tuntutan ketepatan serta kecepatan harus segera direformasi. Dengan gerak yang dinamis ini diharapkan BUMD sebagai Badan Usaha yang memberi peranan terhadap kemajuan perekonomian akan semakin mudah terwujud.

SIMA
Sistem Informasi Manajemen Aset adalah sebuah aplikasi pengelolaan aset yang ditujukan untuk perusahaan besar atau BUMN/BUMD dengan jumlah aset banyak yang seharusnya memerlukan sebuah divisi sendiri untuk pengelolaan aset tersebut.

Keunggulan SIMA
• Aset berjumlah banyak dan tersebar secara geografis
• Aset memiliki penanganan (treatment) yang spesifik
• Aset memiliki “nilai” tertentu dikaitkan dengan posisi geografis
• Aset memiliki masalah-masalah legal yang berbeda-beda
• Tertib Administrasi, Seluruh data/atribut aset tercatat dengan baik, manageable, penanganan simultan dalam satu periode, up-to-date (selalu terbarukan), proses pengelolaan data cepat
• Sistem Informasi Eksekutif,
• Kemudahan untuk pengambilan keputusan atas aset (misal untuk untuk kepentingan utilisasi, investasi, penataan kawasan (estate management),
• Kemudahan dalam analisis aset, terutama melalui pendekatan ruang dan potensi ekonomi wilayah, sehingga dapat ditentukan kebijakan terbaik.

Senin, 07 Maret 2011

Reshuffle

Reshuffle maknanya penggantian, sebagai kata ia adalah biasa mengganti satu hal dengan hal lainnya, tetapi kalau hari-hari ini kita bicara tentang reshuffle maka ini adalah bahasan yang sedang hangat. Reshuffle merupakan alat ancam mengancam, sebagai Partai Terbesar suaranya (kemungkinan sekarang semakin menipis)yakni Partai Demokrat, menjadikan isu ini sebagai dalil untuk menghukum puhak-pihak yang dianggap bertentangan dengan keinginan politik mereka. Kini kalimat ini sebagai alat ancam mengancam.

Saya sepakat dengan pernyataan J Kristiadi yang mengatakan bahwa beberapa analisis yang dikemukakan merupakan analisis yang dangkal, analisis boong-boongan. Tidak akan terjadi reshuffle (kata beliau) dengan beberapa alasan:
1. Tidak ada pengaruhnya sama sekali isu ini dengan perhatian terhadap masyarakat. SBY benar-benar telah abai dengan isu kesejahteraan masyarakat, mereka lebih suka memainkan kartu bagaimana caranya agar dapat mempertahankan pemerintah dengan nyaman sampai 2014
2. SBY tidak akan berani, karena ongkos yang dibayar menjadi sangat mahal. Memangkas PKS yang dinilai ideologis sama saja dengan menumbuh suburkan partai-partai bebek, yang tidak tahu konsep bagaimana membangun bangsa dengan benar
3. Menuruti keinginan beberapa orang oknum Partai Demokrat (seperti Ulil, Anas dan sebagainya) sama saja memegang bola panas. Mengusir teman seperjalan yang kritis sambil memelihara 'brutus' politik semacam Ulil dsan Anas.
4. Jika PKS berada diluar koalisi, maka mereka akan lebih galak dan SBY akan dibuat sibuk. Golkar (kalau dipertahankan) tetap akan bersikap mandiri. PD tidak bisa lagi mengemis-ngemis untuk disuapi dan dilindungi, toh kalaupun Gerindra yang masuk (koalisi) maka SBY akan kerepotan beradu pamor dengan Prabowo.
5. Jika PKS di luar maka hal tersebut akan memperkokoh 'musuh-musuh' politik SBY. Kita tahu kalau RI 1 itu banyak musuhnya karena telah melangkahi beberapa angkatan di tentara, kemudian telah ada momentum SBY bersebrangan dengan para tokoh dan pemuka agama

Lebih penting lagi, keinginnan untuk gonta ganti menteri akan menjadi sangat tidak efektif, apalagi kalau bicara masalah menyelesaikan agenda menyejahterakan masyarakat, maka Pemerintah akan sangat kerepotan. Maka, berpikirlah wahai kalian para politikush!!!!!

Minggu, 20 Februari 2011

Ekonomi Dunia


Ekonomi dunia dewasa ini sedang menghadapi krisis yang mencekik, baik pada tataran sistem dan teori, atau pada tataran realitas praktis bagi ekonomi pasar. Angka kemiskinan tidak menunjukkan penurunan bahkan sistem ekonomi pasar telah menyebabkan kesenjangan yang luar biasa antara golongan kaya dan golongan miskin. Kemudahan dan kebebasan menguasai dan mengelola sumber modal tidak dibarengi oleh sistem distribusi kekayaan yang adil. Sistem pajak sebagai cara distribusi telah ditimbuni oleh korupsi. Ibarat kolesterol yang menyumbat saluran pmbuluh darah. Secara teori, sistem ekonomi pasar menjadi tidak praktis, banyak revisi sana sini sesuai dengan kebutuhan. Ekonomi tambal sulam ini menunjukkan ketidaksiapannya mewujudkan negara sejahtera yang selama ini digembar-gemborkan.

Disisi lain, sistem ekonomi Islam dengan kemampuannya yang tersembunyi dan unik mampu memberi solusi terhadap ekonomi kontemporer, baik dalam skala regional atau dunia, lokal atau umum. Walaupun belum menunjukkan wujudnya yang utuh karena terkendala 'bentrokan' dengan sistem yang sedang berjalan sedikit demi sedikit para pelaku ekonomi merasakan secara natural sistem ekonomi lebih memberikan ketentraman dan nilai-nilai dasar keadilan. Dengan beberapa 'exercise' yang dilakukan dalam penggunaan mata uang, sistem kerjasama bisnis, perjanjian akad transaksi dan lain-lain telah memberikan nilai beda. Berbagai embrio bank Islam telah berdiri bukan hanya di negara berpenduduk mayoritas Islam tapi juga di negara Eropa sperti Bank Islam di Luxemburg. Bahkan ada sebuah bank Yahudi di Amerika yang mnerapkan sistem profit sharing dalam salah satu layanan banknya. Lambat tapi pasti, eksistensi ekonomi Islam mulai diakui bukan hanya sebagai wacana tapi juga mampu dibumikan dalam tataran realitas.

Dilema ekonomi dianggap sebagai masalah yang paling mendesak bagi berbagai lembaga nasional dan regional di negara-negara dunia ketiga, termasuk dunia Arab dan islam, meskipun Allah telah melimpahkan kekayaan yang demikian besarnya. Sistem Ekonomi yang telah dianggap sebagai aksioma ternyata membuktikan ketidakmampuannya memberikan kemakmuran yang seimbang, ternyata kemakmuran yang hanya dilandaskan pada penguasaan materi tidaklah menarik lagi. Negara-negara kaya secara sumber daya tidak terjamin menjadi negara yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Masyarakat di berbagai belahan dunia seakan kebingungan mengelola berbagai kekayaan yang melimpah, bagaimana cara mengelolanya dan bagaimana mendistribusikannya secara adil. Ketimpangan ekonomi di Arab dan belahan bumi lain telah menyulut aksi demontrasi dan ketidakseimbangan pengelolaan negara. Domino masalah pergeseran kekuasaan dan tuntutan agar rezim mundur (yang berawal di Tunisia) kini telah merembet ke negara Mesir, Yaman, Bahrain dan lain sebagainya. Satu persatu masalah yang mirip telah terjadi pada dasa warsa sebelumnya di Asia Tenggara seperti negara Indonesia.

Gejolak ini timbul di negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim, seakan mereka merasakan kepribadian ganda dan kebingungan psikologis ketika harus menerima penerapan sistem ekonomi dan politik dan bertentangan dengan landasan keimanan mereka. menjalankan sistem perekonomian yang berlandaskan Islam akan membuat kebingungan tersebut hilang, maka eksistensi negara-negara Islam diperkirakan akan makin kuat dengan kembalinya mereka pada sistem Induknya yaitu Sistem Ekonomi Islam.

Selasa, 01 Februari 2011

Ada Cengkeraman Raksasa di Natuna



Natuna termasuk bagian terluar wilayah NKRI, seandainya tidak ada potensi besar disana--yakni Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680 barel--mungkin pulau ini akan terlupakan sebagaimana pulau-pulau terluar lainnya. Kelemahan Wawasan Nusantara kita adalah kelemahan menciptakan infrastruktur dan suprastruktur untuk melindungi kawasan terluar tersebut. Pulau-pulau tersebut rentan direbut dan diakui oleh pihak luar, belum lagi pencurian kekayaan lautnya seperti ikan, pasir, dan mungkin sampai terumbu karangnya.

Natuna menjadi wilayah yang seksi, ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI) dengan total cadangan 222 trillion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT merupakan salah satu sumber terbesar di Asia, dan kini kontrak pengelolaannya hampir selesai. Menuju kontrak baru, beberapa elemen bangsa termasuk Marwan Batubara --yang mantan anggota DPR itu--menekan Pemerintah agar memberikan kontrak pengelolaan kepada Pertamina, karena Pertamana --sang Power House Indonesia --memiliki tenaga dan kapasitas yang cukup untuk menangani pengelolaan pengeboran migas dan pengelolaannya.

Logikanya cukup beralasan apabila Pemerintah memberikan perlindungan langsung yang menyerahkan pengelolaan kepada putra bangsa, terutama agar aset dan keuntungan pengelolaannya tidak lari kemana-mana. Tapi ternyata tidak sesederhana itu, Di Blok Cepu, pemerintah daerah dan Pertamina yang memiliki saham mayoritas tidak kadung dapat proyek pengelolaan Blok Migas ini. Alih-alih menyerahkan, Pemerintah malah melimpahkan pengelolaan kepada Exxon Group --perusahaan Amerika-- yang diduga didukung penuh kekuatan adi kuasa untuk mendorong agar jatah pengelolaan migas jatuh ke perusahaan swasta asing tersebut. Ironi memang, negeri yang kaya dan seharusnya dapat memakmurkan masyarakat dengan sumber daya alamnya ini malah berada dalam kangkangan kekuasaan adi kuasa yang bernama Amerika. Sebuah kontrak yang menjadi cela pemerintahan SBY. Negeri ini bagai dikapling-kapling oleh penguasa untuk kepentingan perutnya sendiri dan tangan-tangan kekuasaan tuannya.

Melihat preseden tersebut, ada kekhawatiran Natuna juga diperlakukan sama. Liberalisme sungguh menunjukkan belangnya disini. Atas nama perdagangan bebas, akan ada desakan kuat agar melelang tender pengelolaan natuna secara bebas--padahal di belakang meja mereka kong kalikong--mengarahkan tender jatuh ke pihak swasta asing. Pemerintah ini nampaknya sukses jualan negara untuk kepentingan sesaat. Jangan-jangan pemerintah negara ini yang dukungan AS memang benar. Buktinya ....

Perekonimian juga butuh patriotime, kita tidak dapat dengan alasan perdagangan bebas melepaskan aset yang menguasai hajat hidup orang banyak diserahkan kepada pihak yang tidak kepikiran sama sekali untuk membangun negeri kita. Harua ada keberanian untuk melawan oligarkhi kekuasaan, dan membela kepentingan bersama dengan melindungi aset-aset besar negara.

Yang lebih penting, bangsa ini harus belajar untuk mengkapitalisasi sumber daya yang dimiliki dan percaya diri untuk mengelolanya secara mandiri.

Kamis, 27 Januari 2011

Crop Circle

Tiba-tiba saja Crop Circle jadi populer di Indonesia, tiba-tiba saja orang bertanya-tanya tentang UFO (orang sunda bilangnya UPO) ketika CC hadir di Yogya katanya ada yang bilang barangkali ada makhluk asing yang mau ninjau Merapi yang meletus..ada-ada saja. Crop Circle kayaknya lebih enak kalau dihargai sebagai karya seni, membuat karya sedemikian memang butuh ketelitian dan ketelatenan, di luar negeri karya-karya udah sangat keren watch this...

Naik Gaji euy

Sungguh naif penduduk negeri ini, dari mulai presiden sampai rakjat djelata nya. kemarin rame gayus..semua orang bicara tentang Gayus, ada yang buat lagu segala. Segala orang yang kerja di perpajakan disamain dengan Gayus. Iklan-iklan mengangkat tentang Guyas gayus. Lha sekarang presiden cerita tentang gajinya yang ga naik-naik..semua orang cerita itu. Menteri Keuangan sibuk nyari pos darimana gaji presiden bisa dinaikkan. Seluruh anggota dewan sibuk menganggarkan APBN 2012 yang didalamnya ada anggaran gaji Presiden.

Bah..udah sakit memang.Kayak ga ada topik yang lebih menarik, gimana bangsa ini bisa pinter kalo bahasannya hanya masalah remeh temeh belaka? mengapa mereka tidak bicara hal yang lebih penting saja?