"Nak, jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian". Kalimat ini adalah inti sari pesan Tere Liye dari 3 buku yang disusunnya (setidaknya tiga buku yang sudah saya baca - diluar Amelia yang janji Tereliye akan terbit Agustus kemarin). Sebuah kisah bersetting masyarakat Melayu tentang anak-anak Amak Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Keluarga sederhana yang kokoh mengajarkan nilai-nilai kuat yang ditanamkan pada anaknya.Senin, 21 November 2011
Eliana: Serial Anak-Anak Mamak
"Nak, jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian". Kalimat ini adalah inti sari pesan Tere Liye dari 3 buku yang disusunnya (setidaknya tiga buku yang sudah saya baca - diluar Amelia yang janji Tereliye akan terbit Agustus kemarin). Sebuah kisah bersetting masyarakat Melayu tentang anak-anak Amak Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Keluarga sederhana yang kokoh mengajarkan nilai-nilai kuat yang ditanamkan pada anaknya.Minggu, 20 November 2011
Saga no Gabai Bachan: kearifan orang Cuek Beibeh

“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.” Ini pernyataan Yosichi Shimada -- Sang Penulis tentang intisari nilai yang diajarkan Nenek Osano tentang kehidupan. Yosichi yang besar menjadi Komedian yang terkenal di Jepang berbagi cerita tentang pengalaman hidup masa kecilnya yang terdidik dalam kemiskinan yang ceria bersama neneknya di Saga.
Saya mendapatkan buku ini ketika jalan-jalan wisata buku di BBC Cikutra, cara penyusunan displaynya kurang rapi jadinya saya lupa bagaimana menemukan buku ini, tapi kalo orang bilang Don't Judge the Book by It's Cover, maka saya selalu menilai bagus tidaknya buku dari covernya. Buku ini perwajahannya menarik, ini resep saya --ditengah kebiasaan toko buku men-seal rapi sehingga kita tidak bisa membolak-balik dalemannya. Karena perwajahan menarik itulah saya putuskan mengambilnya. Setelah itu baca bagian belakang buku .. menarik maka tambah poinnya..sikaaat. Ternyata kembali terbukti, buku ini bagus serasa membaca Toto Chan-nya Tetsuya Kuronayagi dalam bentuk yang lain.
Dengan latar pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, kita sangat memahami kalau kondisi masyarakat Jepang saat itu berada dalam kondisi miskin. Masyarakat Jepang pada masa itu bangkit dari keterpurukannya, Nenek Osano adalah salah satu saja dari warisan budaya Jepang yang kukuh. Saya yakin banyak pula model seperti ini di jepang, karena ini adalah salah satu karakter unggulnya. Shimada yang secara menggelitik menerangkan secara pintas tentang ketidakjelasan asal usul ayah 'sebenarnya' dibesarkan oleh seorang ibu yang menjadi pelayan di sebuah restoran atau bar. Ibunya menjadi sosok yang tidak banyak diceritakan disini. Shimada didorong ke Saga dengan sebuah konspirasi menyedihkan dari ibu dan bibinya, maka terdamparlah ia di sebuah gubuk usang dipinggan sungai yang masuk wilayah bekas kerajaan Saga. Dari sinilah cerita pengajaran kearifan lokal dari si Nenek dimulai. Diantara pelajaran pentingnya adalah bagaimana keberterimaan terhadap nasib dengan ceria. Kemiskinan kalau dihadapi dengan muram maka akan semakin menyedihkan, tetapi jika kita menghadapinya dengan ceria maka kemiskinan tetaplah menjadi sesuatu yang menceriakan, atau setidaknya tetap ceria walaupun miskin.
Nenek Osano mengatakan: “Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun-temurun miskin.” Ini tentang Mindset sobat, bagaimana kita tetap percaya diri dalam kemiskinan? intinya apapun kondisinya kita harus tetap percaya diri karena ini sikap yang akan meringankan segala bentuk penderitaan. Tetap percaya diri saat halangan menghadang akan menyebabkan syaraf kita memiliki daya lentur yang tinggi, melihat semua kondisi dengan siap dan menerima apa adanya. Itu Qona'ah namanya. Tak perlu cemas, ketika harta kita hanyalah termos air panas untuk menghangatkan kaki ketika musim dingin, maka ketika tidur simpanlah termos itu di kaki sehingga akan tetap menghangatkan kaus kaki kita, ketika ada tamu, termos yang tadi kita simpan disebelah kaos kaki kita pakai untuk mincurahkan air suguhan, biarlah tamu nya bergidik, tapi kita kan tulus. Kerja keras adalah bagian yang tidak terpisahkan.
Bahkan ketika perut kita berbunyi mengkeret sebagai tanda kelaparan, Nenek Osano cuma bilang ah itu cuma mimpi, tidur sajalah lagi. Luar Biasa Bukan? Ada belasan episode yang diuraikan, masing-masing memiliki pelajarannya sendiri-sendiri.
Tentang efektif dan efisien, setiap perjalanan pergi dan pulang kerja ada suara kelontang kelenteng dari pinggang nenek yang mengikatkan magnet disitu, untuk apa? mengumpulkan paku dan logam bekas agak tersedot magnet, sekali jalan, dua agenda tertuntaskan. “Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” (hal 42)
Tentang supermarket buah dan sayur di sungai depan rumah. Dengan hanya memalangkan seutas bambu di sungai, Nenek bisa mendapatkan menu makanan sehat, baik buah atau sayuran yang tidak sengaja tercecer atau yang sudah rusak atau yang bentuknya tidak sempurna. "Bukankah lobak yang bercabang dua, kalo diiris-iris tetaplah lobak? bukankah apel yang kalo kita buang sedikit bagian busuknya akan menjadi buah apel yang tetap lezat?" Inilah pelajaran mengambil berkah makanan yang diajarkan Nenek Osano, bukankah Tuhan akan marah kalau kita sia-siakan makanan? kita tidak pernah tahu, di bagian makanan yang manakah Allah sisakan keberkahannya.
Selain cerita pelajaran dari nenek, ada juga cerita tentang Shimada sendiri yang mempraktekkan pelajaran efektivitas dan efisiensi Nenek, tentang kecanggihannya mencari uang dari bulus yang ditemukan berkat mengais-ngais sungai dengan kakinya, atau cerita mendapatkan logam-logam untuk sekedar mendapatkan gula-gula dan membeli pensil warna?
Tentang kreativitas mencuri mangga bagi cewek gebetannya yang ternyata dialah yang empunya pohon yang sebenarnya. Inti yang saya dapatkan dari membaca buku ini adalah membesarkan rasa syukur dan membuat parameter baru tentang arti kebahagiaan. Bagaimana dengan anda? sudah membaca buku ini?
Slim & Bill : tentang membangun sekolah berbasis buku
Sabtu kemarin adalah waktu menjalankan 'program nasional', jatah ngajak anak-anak ke perpusatakaan daerah, anak-anak berpesta pora membaca buku-buku kesukaannya, sementara si Aku (ciee..) tenggelam membaca buku Slim n Bill nya Hernowo. Sebetulnya udah lama membaca sekilas buku ini, tapi baru sekarang --secara kebetulan-- dapat mengunyah lebih serius.Buku ini tentang bagaimana Pak Bill berdiskusi dengan Bu Slim tentang membangkitkan perpustakaan sekolah, lewat gaya percakapan ini Hernowo menyajikan teorema-teorema pembelajaran dengan mengibaratkan para pakar datang langsung ke acara seminarnya sekolah Pak Bill berbicara langsung tentang kaidah-kaidah serta pentingnya mengunyah buku dengan lebih baik.
Diawali dengan menginformasikan tentang pentingnya aktivitas baca tulis untuk proses pendidikan di sekolah. Begitu intisarinya .. kegiatan baca tulis adalah kegiatan mendasar dalam mengefektifkan pendidikan sekaligus dapat berperan penting dalam kehidupan. Hernowo mengompori pembaca untuk menilai ulang aktivitas interaksi mereka dengan buku, digambarkan bagaimana pentingnya kegiatan menulis sebagai bentuk pengikatan makna, mengukur seberapa jauh pemahaman kita terhadap buku yang kita baca. Sering kita dapati bahwa aktivitas belajar bahasa Indonesia tidak mendekatkan pembaca dengan aktivitas baca tulis, bahkan cenderung menjadi kegiatan literasi tipis-tipis saja.
Salah seorang ahli yang ditampilkan disitu mengatakan bahwa menulis secara bebas memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kestabilan psikologis seseorang. Kemudian, membaca buku dapat mempertautkan antara satu bagian pengetahuan dengan bagian pengetahuan yang lainnya, maka utuhlah pemahaman kita tentang ilmu.
Menulis adalah upaya kita mengkonstruksi atau menyusun pemahaman kita atas pelbagai pengetahuan yang terkait dan cocok dengan diri kita sendiri. Satu hal yang masih asing terjadi di sekolah-sekolah kita. Bangku sekolah tidak secara khusus mengajak siswa-siswinya mencintai kegiatan literasi --meminjam istilah Gola Gong-- tanpa kegiatan membaca dan menulis dunia akan terasa hampa. Masih untuk ada sekelompok anak remaja yang menyukai chicklit atau komik, jauh banget deh kalo urusan buku-buku berat. Lebih banyak diantara mereka yang menjadikan kegiatan menulis sebagai barang asing. Makanya kegiatan yang membangkitkan gempa literasi yang dikembangkan Gola Gong perlulah mendapatkan dukungan yang maksimal. (menyimpang dikit ya..).
Hernowo --masih di buku ini-- membawa pesan tentang pentingnya perpustakaan dihadirkan sampai ke pelosok, tetapi dengan catatan bahwa buku-bukunya harus menarik dan kontekstual. Buku yang disajikan di daerah pesisir nampaknya lebih relevan kalau menyajikan lebih banyak buku tentang pengolahan ikan laut, cara menangkap ikan dan konservasi terumbu karang. Menyamaratakan daerah bersama kebutuhannya adalah pemikiran yang naif. Keberadaan perpustakaan di desa sangat penting, selain agar dapat menyerap informasi juga sebagai sarana mengolahragakan otak mereka. Bukankah otak masyarakat perlu diolahragakan agar lebih berotot untuk kritis terhadap kehidupan?
Siapa yang harus diandalkan menjalankan peran menyajikan buku yang menarik dan kontekstual itu? Para Pustakawan tentu saja. Sayangnya para pustakawan tersebut belum menjalankan perannya dengan baik. Mereka belum tentu orang yang doyan membaca buku-buku sehingga sehingga dapat mensarikan dan menginformasikan buku mana saja yang menarik dan kontekstual untuk pengunjungnya.
Yang lebih menarik lagi adalah tentang temuan DR Taufiq Pasiak (masih di buku ini) yang menyatakan bahwa sifat-sifat jelek seperti sombong, iri, dan kikir dapat merusak otak, sama kuatnya dengan keganasan tumor otak. Aktivitas membaca (apalagi menemukan dan mengartikan pengertian kata-kata yang baru) akan menyalakan otak. Luar Biasa!
Buku ini secara keseluruhan dapat menjadi penyala untuk perbaikan proses pendidikan dan produksi masyarakat pembelajar yang lebih baik. Insya Allah. @bangunperadaban
Sabtu, 19 November 2011
Garis Batas: backpacker dengan nalar

Jumat, 04 November 2011
Untung Rugi Pariwisata
Rabu, 26 Oktober 2011
Sukses Mulia
Sabtu, 15 Oktober 2011
ekonomi biaya tinggi

Indonesia adalah negara yang sangat besar, dari segi luas dan jumlah penduduk. Secara hitung-hitungan, potensi ekonomi negara ini cukup untuk mensejahterakan seluruh penduduknya. Negara ini sangat kaya jika dikelola dengan baik. Untuk mengambil beberapa contoh, tanahnya yang subur dengan hutannya saja kalau dikelola dengan baik akan memberikan kesejahteraan bagi jutaan masyarakatnya yang agraris. Laut yang luasnya saja bisa mencukupi kebutuhan ikan dunia, sekali lagi jika dikelola dengan baik dan modern, dibuat poerlindungan agar tidak dicuri bangsa lain. Belum dihitung kekayaan tambang yang bisa dipakai sebagai tabungan untuk jangka panjang jika dan hanya jika dikelola dengan bijaksana.