Minggu, 20 November 2011

Saga no Gabai Bachan: kearifan orang Cuek Beibeh


“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.” Ini pernyataan Yosichi Shimada -- Sang Penulis tentang intisari nilai yang diajarkan Nenek Osano tentang kehidupan. Yosichi yang besar menjadi Komedian yang terkenal di Jepang berbagi cerita tentang pengalaman hidup masa kecilnya yang terdidik dalam kemiskinan yang ceria bersama neneknya di Saga.

Saya mendapatkan buku ini ketika jalan-jalan wisata buku di BBC Cikutra, cara penyusunan displaynya kurang rapi jadinya saya lupa bagaimana menemukan buku ini, tapi kalo orang bilang Don't Judge the Book by It's Cover, maka saya selalu menilai bagus tidaknya buku dari covernya. Buku ini perwajahannya menarik, ini resep saya --ditengah kebiasaan toko buku men-seal rapi sehingga kita tidak bisa membolak-balik dalemannya. Karena perwajahan menarik itulah saya putuskan mengambilnya. Setelah itu baca bagian belakang buku .. menarik maka tambah poinnya..sikaaat. Ternyata kembali terbukti, buku ini bagus serasa membaca Toto Chan-nya Tetsuya Kuronayagi dalam bentuk yang lain.

Dengan latar pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, kita sangat memahami kalau kondisi masyarakat Jepang saat itu berada dalam kondisi miskin. Masyarakat Jepang pada masa itu bangkit dari keterpurukannya, Nenek Osano adalah salah satu saja dari warisan budaya Jepang yang kukuh. Saya yakin banyak pula model seperti ini di jepang, karena ini adalah salah satu karakter unggulnya. Shimada yang secara menggelitik menerangkan secara pintas tentang ketidakjelasan asal usul ayah 'sebenarnya' dibesarkan oleh seorang ibu yang menjadi pelayan di sebuah restoran atau bar. Ibunya menjadi sosok yang tidak banyak diceritakan disini. Shimada didorong ke Saga dengan sebuah konspirasi menyedihkan dari ibu dan bibinya, maka terdamparlah ia di sebuah gubuk usang dipinggan sungai yang masuk wilayah bekas kerajaan Saga. Dari sinilah cerita pengajaran kearifan lokal dari si Nenek dimulai. Diantara pelajaran pentingnya adalah bagaimana keberterimaan terhadap nasib dengan ceria. Kemiskinan kalau dihadapi dengan muram maka akan semakin menyedihkan, tetapi jika kita menghadapinya dengan ceria maka kemiskinan tetaplah menjadi sesuatu yang menceriakan, atau setidaknya tetap ceria walaupun miskin.

Nenek Osano mengatakan: “Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun-temurun miskin.” Ini tentang Mindset sobat, bagaimana kita tetap percaya diri dalam kemiskinan? intinya apapun kondisinya kita harus tetap percaya diri karena ini sikap yang akan meringankan segala bentuk penderitaan. Tetap percaya diri saat halangan menghadang akan menyebabkan syaraf kita memiliki daya lentur yang tinggi, melihat semua kondisi dengan siap dan menerima apa adanya. Itu Qona'ah namanya. Tak perlu cemas, ketika harta kita hanyalah termos air panas untuk menghangatkan kaki ketika musim dingin, maka ketika tidur simpanlah termos itu di kaki sehingga akan tetap menghangatkan kaus kaki kita, ketika ada tamu, termos yang tadi kita simpan disebelah kaos kaki kita pakai untuk mincurahkan air suguhan, biarlah tamu nya bergidik, tapi kita kan tulus. Kerja keras adalah bagian yang tidak terpisahkan.

Bahkan ketika perut kita berbunyi mengkeret sebagai tanda kelaparan, Nenek Osano cuma bilang ah itu cuma mimpi, tidur sajalah lagi. Luar Biasa Bukan? Ada belasan episode yang diuraikan, masing-masing memiliki pelajarannya sendiri-sendiri.

Tentang efektif dan efisien, setiap perjalanan pergi dan pulang kerja ada suara kelontang kelenteng dari pinggang nenek yang mengikatkan magnet disitu, untuk apa? mengumpulkan paku dan logam bekas agak tersedot magnet, sekali jalan, dua agenda tertuntaskan. “Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” (hal 42)

Tentang supermarket buah dan sayur di sungai depan rumah. Dengan hanya memalangkan seutas bambu di sungai, Nenek bisa mendapatkan menu makanan sehat, baik buah atau sayuran yang tidak sengaja tercecer atau yang sudah rusak atau yang bentuknya tidak sempurna. "Bukankah lobak yang bercabang dua, kalo diiris-iris tetaplah lobak? bukankah apel yang kalo kita buang sedikit bagian busuknya akan menjadi buah apel yang tetap lezat?" Inilah pelajaran mengambil berkah makanan yang diajarkan Nenek Osano, bukankah Tuhan akan marah kalau kita sia-siakan makanan? kita tidak pernah tahu, di bagian makanan yang manakah Allah sisakan keberkahannya.

Selain cerita pelajaran dari nenek, ada juga cerita tentang Shimada sendiri yang mempraktekkan pelajaran efektivitas dan efisiensi Nenek, tentang kecanggihannya mencari uang dari bulus yang ditemukan berkat mengais-ngais sungai dengan kakinya, atau cerita mendapatkan logam-logam untuk sekedar mendapatkan gula-gula dan membeli pensil warna?

Tentang kreativitas mencuri mangga bagi cewek gebetannya yang ternyata dialah yang empunya pohon yang sebenarnya. Inti yang saya dapatkan dari membaca buku ini adalah membesarkan rasa syukur dan membuat parameter baru tentang arti kebahagiaan. Bagaimana dengan anda? sudah membaca buku ini?

Slim & Bill : tentang membangun sekolah berbasis buku

Sabtu kemarin adalah waktu menjalankan 'program nasional', jatah ngajak anak-anak ke perpusatakaan daerah, anak-anak berpesta pora membaca buku-buku kesukaannya, sementara si Aku (ciee..) tenggelam membaca buku Slim n Bill nya Hernowo. Sebetulnya udah lama membaca sekilas buku ini, tapi baru sekarang --secara kebetulan-- dapat mengunyah lebih serius.

Buku ini tentang bagaimana Pak Bill berdiskusi dengan Bu Slim tentang membangkitkan perpustakaan sekolah, lewat gaya percakapan ini Hernowo menyajikan teorema-teorema pembelajaran dengan mengibaratkan para pakar datang langsung ke acara seminarnya sekolah Pak Bill berbicara langsung tentang kaidah-kaidah serta pentingnya mengunyah buku dengan lebih baik.

Diawali dengan menginformasikan tentang pentingnya aktivitas baca tulis untuk proses pendidikan di sekolah. Begitu intisarinya .. kegiatan baca tulis adalah kegiatan mendasar dalam mengefektifkan pendidikan sekaligus dapat berperan penting dalam kehidupan. Hernowo mengompori pembaca untuk menilai ulang aktivitas interaksi mereka dengan buku, digambarkan bagaimana pentingnya kegiatan menulis sebagai bentuk pengikatan makna, mengukur seberapa jauh pemahaman kita terhadap buku yang kita baca. Sering kita dapati bahwa aktivitas belajar bahasa Indonesia tidak mendekatkan pembaca dengan aktivitas baca tulis, bahkan cenderung menjadi kegiatan literasi tipis-tipis saja.

Salah seorang ahli yang ditampilkan disitu mengatakan bahwa menulis secara bebas memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kestabilan psikologis seseorang. Kemudian, membaca buku dapat mempertautkan antara satu bagian pengetahuan dengan bagian pengetahuan yang lainnya, maka utuhlah pemahaman kita tentang ilmu.

Menulis adalah upaya kita mengkonstruksi atau menyusun pemahaman kita atas pelbagai pengetahuan yang terkait dan cocok dengan diri kita sendiri. Satu hal yang masih asing terjadi di sekolah-sekolah kita. Bangku sekolah tidak secara khusus mengajak siswa-siswinya mencintai kegiatan literasi --meminjam istilah Gola Gong-- tanpa kegiatan membaca dan menulis dunia akan terasa hampa. Masih untuk ada sekelompok anak remaja yang menyukai chicklit atau komik, jauh banget deh kalo urusan buku-buku berat. Lebih banyak diantara mereka yang menjadikan kegiatan menulis sebagai barang asing. Makanya kegiatan yang membangkitkan gempa literasi yang dikembangkan Gola Gong perlulah mendapatkan dukungan yang maksimal. (menyimpang dikit ya..).

Hernowo --masih di buku ini-- membawa pesan tentang pentingnya perpustakaan dihadirkan sampai ke pelosok, tetapi dengan catatan bahwa buku-bukunya harus menarik dan kontekstual. Buku yang disajikan di daerah pesisir nampaknya lebih relevan kalau menyajikan lebih banyak buku tentang pengolahan ikan laut, cara menangkap ikan dan konservasi terumbu karang. Menyamaratakan daerah bersama kebutuhannya adalah pemikiran yang naif. Keberadaan perpustakaan di desa sangat penting, selain agar dapat menyerap informasi juga sebagai sarana mengolahragakan otak mereka. Bukankah otak masyarakat perlu diolahragakan agar lebih berotot untuk kritis terhadap kehidupan?

Siapa yang harus diandalkan menjalankan peran menyajikan buku yang menarik dan kontekstual itu? Para Pustakawan tentu saja. Sayangnya para pustakawan tersebut belum menjalankan perannya dengan baik. Mereka belum tentu orang yang doyan membaca buku-buku sehingga sehingga dapat mensarikan dan menginformasikan buku mana saja yang menarik dan kontekstual untuk pengunjungnya.

Yang lebih menarik lagi adalah tentang temuan DR Taufiq Pasiak (masih di buku ini) yang menyatakan bahwa sifat-sifat jelek seperti sombong, iri, dan kikir dapat merusak otak, sama kuatnya dengan keganasan tumor otak. Aktivitas membaca (apalagi menemukan dan mengartikan pengertian kata-kata yang baru) akan menyalakan otak. Luar Biasa!

Buku ini secara keseluruhan dapat menjadi penyala untuk perbaikan proses pendidikan dan produksi masyarakat pembelajar yang lebih baik. Insya Allah. @bangunperadaban

Sabtu, 19 November 2011

Garis Batas: backpacker dengan nalar

BackPacker Mendalam

Membaca buku Agustinus bagaikan membaca kisah perjalanan yang dihayati secara mendalam. Jika kita membaca buku travel dari backpakeran yang lain terasa ada suasana pop, melakukan perjalanan didominasi oleh mencari kesenangan dan biasanya tempat yang dikunjungi adalah tempat resmi yang direkomendasikan pariwisata. Berbeda dengan kelananya Agus yang melakukan kunjungan sembari mencerna arti perjalanan.

Tema Garis Batas adalah benang merah buku tebal 510 halaman ini. Kalau kita membaca sejarah tentang Uni Sovyet, maka kita akan mendapatkan informasi sebuah negara raksasa 'dingin' yang kejam. Membangun kesuperpoweran dengan tangan besi, wilayahnya begitu tertutup untuk masyarakat luar. Setelah Uni Sovyet bubar dan trepecah-pecah menjadi beberapa negara yang baru, persoalan garis batas tiba-tiba menjadi persoalan yang sangat dshsyat terhadap perikehidupan bangsa Stan yang mendiami wilayah Asia Tengah tersebut. Seakan-akan identitas kebangsaan menjadi sesuatu yang harus dibangun sejak awal, sisa-sisa keadikuasaan Sovyet tiba-tiba sirna.

Dimulai dengan membahas Sungai Ammu Darya yang memisahkan Afghanstan yang tertinggal, alat transportasi keledai melalui tebing yang menakutkan, sementara seberang sungai tergambar suasana jalan yang mulus dan listrik yang benderang. Jarak seratus meteran memiliki arti sebagai pemisah antara selimut debu Afghanistan dengan kemodernan negeri Stan yang baru. Secara jeli Agustinus menggambarkan peranan dan keanehan sekaligus yang diberikan dari penarikan garis batas antar negara.

Di bab pertama, diperkenalkan Tajikistan yang muram, dalam bayangan pembaca Tajikistan adalah sebuah negara dengan dominasi pegunungan yang hanya cocok digunakan untuk menggembalakan ternak, luas negara yang luas dengan penduduk dan wilayah yang bisa ditempati sedikit saja. Sungguh kesepian orang yang 'berjalan-jalan' disana. Tajikistan adalah negara yang kecil, dunia lupa siapa dia. Gaya Uni Sovyet masih tersisa, orang asing yang datang harus dicatat akan tinggal dimana, mau kemana saja, dengan siapa, berapa lama dan untuk tujuan apa. Seakan-akan mereka enggan dikunjungi oleh orang luar. Harga-harga dibedakan atara orang Tajik dengan orang Asing. Dushanbe adalah mutiara yang jadi pusat Tajikistan, dibanding negara Stan lain Tajikistan adalah yang terkecil dan termiskin, Somoni adalah mata uangnya, seperti negaranya, mata uangnya juga lemah.

Agustinus begitu rinci, bagaimana sulitnya melakukan perjalanan di negeri-negeri Asia Tengah ini terekam dengan baik. Mendalamnya Penulis dalam melakukan perjalanan terlihat dari keakrabannya dengan penduduk setempat, memiliki kenalan yang dipertemukan ditengah perjalanan, sehingga dapat menyerap suasana asli negara-negara yang dikunjungi. Kita dapat membedakan bagaimana Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan maupun Turkmenistan.

Kepapaan orang Tajik, kemegahan Kazakhstan sampai utopianya Turkmenistan tersaji dengan baik. Garis batas yang dibuat menyisakan pulau-pulau aneh ditengah daratan. Bagaimana dua desa yang hanya dipisahkan oleh sebuah gang bisa memiliki provider telpon yang berbeda dan untuk berkunjung secara resmi orang harus punya visa!! Membaca buku ini akan membuat pembacanya belajar tentang kearifan lokal dan sedihnya masyarakat yang tercerabut dari akarnya.

Bagaiman mereka yang mengaku beragama Islam tapi tidak mengenal arti tulisan arab Allah atau Muhammad, mereka tidak mengenal sedikitpun tulisan Arab, mereka tidak berpuasa ketika Ramadhan dan tidak dapat terlepas dari vodka bahkan pada waktu Hari Raya! luar biasa.

Atau cerita tentang Turkmenbashi yang menjadikan Ruhnama sebagai kitab suci, proyek menggantikan nama jalan, nama bulan dengan tiba-tiba. Masyarakat tiba-tiba miskin karena terkena proyek negara secara tiba-tiba. Foto Turkmenbashi dimana-mana dan meyakinkan masyarakatnya bahwa merekalah pusat dunia. Pokoknya buku ini adalah a must read book deh. bagus.



Jumat, 04 November 2011

Untung Rugi Pariwisata

Ribut-ribut soal memasukkan Komodo jadi salah satu 7wonders tentu saja bukan untuk gaya-gayaan, selain memperkenalkan ikon Indonesia - pasti ada kepentingan pariwisata disitu. Bicara pariwisata maka ada sisi keuangan disana, betapa banyak devisa yang bisa dihasilkan dari kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Agustinus Wibowo, backpacker yang sudah melahirkan 2 buku perjalanan ke Afghanistan dan Asia Tengah (Selimut Debu dan Garis Batas) menuliskan bahwa pariwisata memberikan dampak ekonomi, budaya Eagle Hunting yang hampir punah kembali marak di Mongolia karena untuk memenuhi tuntutan wisatawan Asing, dan Indonesia memiliki peluang pariwisata yang sangat banyak, maka bisa memanfaatkan peningkatan kunjungan wisatawan manca negara, tapi -katanya- pariwisata memiliki dua efek yang saling berlawanan. Satu sisi memberikan tambahan pemasukan devisa tapi disisi lain pariwisata dapat membawa sampah budaya.

Lihatlah Thailand yang menjadi sangat permisif terhadap Laddy Boy (Banci yang merubah kelaminnya jadi perempuan), menjadi negara dengan budaya yang sangat asing di Asia Tenggara. Terlalu bebas. Tentu saja kita tidak menginginkan efek-efek itu terjadi. Bagaimana agar pariwisata tetap marak tapi infiltrasi budaya tidak kebablasan?

Mau tidak mau masyarakat kita harus memiliki karakter yang sangat kuat sehingga yang terjadi adalah para wisatawan yang mengikuti budaya yang ada, bukan sebaliknya budaya kita tergadaikan karena lembaran dollar. Disini dibutuhkan strategi yang terpadu lintas departemen. Departemen Pariwisata jangan dibiarkan sendirian, karena disana akan berhubungan dengan Departemen Perhubungan yang mengatur moda yang compatible dengan peningkatan wisatawan asing, ada peran Departemen Pekerjaan Umum yang membangun infrastruktur sehingga perjalanan pariwisata menjadi lancar jaya. Ada juga urusan Diknas yang harus membuat pembentengan yang sangat memadai dengan mengokohkan karakter bangsa dan anak-anaknya.

Kita harus berhitung ulang disini, jangan sampai pembangunan yang terjadi adalah pembangunan tanpa arah menyedot sumberdaya dengan semena-mena dan seenak-enaknya tanpa memperhatikan side effect-nya.

Rabu, 26 Oktober 2011

Sukses Mulia

Jamil Azzaini berkata : "kalau anda menginginkan sukses saja, mungkin anda akan merasa galau; tapi jika anda menginginkan mulia saja mungkin anda akan bermanfaat hanya untuk sedikit orang. Karena itulah anda harus menjadi orang yang sukses lagi mulia".

Kesuksesan menjadi semacam bidadari cantik yang diinginkan oleh siapapun, ada yang galau karena tidak nyampe-nyampe dengan kesuksesan. Ada juga yang tidak galau karena tidak pernah tahu dan tidak merencanakan kesuksesan, baru tersadar ketika telah mencapai suatu kondisi. Sukses, adalah cerita yang banyak dikabarkan orang--tapi kata Jamil tadi jika anda hanya ingin sukses mungkin anda akan tetap galau dan resah karena ternyata sukses yang anda raih bukanlah yang persis anda bayangkan sebelumnya.

Jadi yang orang butuhkan terlebih dahulu adalah tujuan hidup. berbicara tentang tujuan hidup, seseorang harus mengetahui sejarah dirinya, rencana perjalanan dan terminal akhir yang akan dicapainya. Ini kemudian kita kenal sebagai Konsep Diri. Sebuah cara pandang kita terhadap diri sendiri, subjektif maupun objektif yang dengan cara pandang yang utuh tersebut kita memahami apa tujuan-tujuan yang ingin dicapai, apa passion kita, apa target hidup, bagaimana gambaran akhir kehidupan yang kita ingin capai. Syukur-syukur segala tujuan tersebut bisa dicapai dalam usia muda.

Memahami konsep diri, harus dimulai dari pemahaman tentang siapa kita, apa kelebihan kita, apa kekurangan kita, bagaimana citra unik dan sidik jari kehidupan kita. Dalam kemanusiaan kita, membuat perencanaan hidup haruslah mengaitkan segala sesuatunya dengan Allah swt yang menciptakannya. Tidak mungkin kita melepaskannya, karena jika itu dilakukan maka akan terjadi kekurangutuhan --yang kemudian oleh Jamil Zaini disebutkan--jikapun kita sukses mungkin tetap akan menyisakan kegalauan. Tidak galau jika kita benar-benar mulia, siapa yang memberi cap mulia? Ya Allah yang melekatkannya, karena Dia-lah yang menetapkan standarnya.

Nah..bagaimana kita merumuskan konsep diri kita? kita harus memahami 4 realitas besar yakni bahwa misi hidup kita telah ditetapkan (given) kita hanya perlu menyadari bukan mencari bahwa TUJUAN HIDUP KITA ADALAH UNTUK BERIBADAH itulah Missionnya. Lalu apa Visi kita? bukan hanya kaya raya tapi kebaikan di dunia dan di akhirat lalu dijauhkan dari neraka. Itu Vision kita. Realitas kedua adalah kita harusmenyadari bahwa Allah telah memberikan usia sebagai waktu kerja kita. Keterbatasan waktu yang disediakan menyebabkan kita harus bekerja produktif secepat mungkin, kelalaian dan kemalasan menyebabkan kita makin jauh mengabaikan modal kerja berupa waktu. Kita disebut produktif apabila satu satuan waktu kita terkonversi menjadi satu satuan kerja.

Realitas ketiga adalah kenyataan bahwa kita punya potensiyang unik yang harus kita temukan dan kembangkan sampai batas maksimal. Boleh jadi kita akan mengalami masa coba-coba menemukan potensi diri kita yang dengan potensi tersebut kita akan menemukan jalan paling cepat ke titik sukses. Dan realitas terakhir kita dihadapkan pada takdir sejarah kita yang berperan dalam membentuk Aku Diri kita. Kitalah yang bertugas menemukan momentum sejarah kita. Nah.... dengan memahami realitas-realitas tersebut kita akan memiliki penyikapan yang tepat terhadap hidup.

Barulah kemudian kita akan menyusun rencana-rencana hidup kita berdasarkan pemahaman diatas. Maka bergerak menuju penetapan rancangan tadi adalah sebuah perjalanan menuju kesuksesan (dan kemuliaan).

Sabtu, 15 Oktober 2011

ekonomi biaya tinggi


Indonesia adalah negara yang sangat besar, dari segi luas dan jumlah penduduk. Secara hitung-hitungan, potensi ekonomi negara ini cukup untuk mensejahterakan seluruh penduduknya. Negara ini sangat kaya jika dikelola dengan baik. Untuk mengambil beberapa contoh, tanahnya yang subur dengan hutannya saja kalau dikelola dengan baik akan memberikan kesejahteraan bagi jutaan masyarakatnya yang agraris. Laut yang luasnya saja bisa mencukupi kebutuhan ikan dunia, sekali lagi jika dikelola dengan baik dan modern, dibuat poerlindungan agar tidak dicuri bangsa lain. Belum dihitung kekayaan tambang yang bisa dipakai sebagai tabungan untuk jangka panjang jika dan hanya jika dikelola dengan bijaksana.

Yang dibutuhkan Indonesia adalah orang yang dapat mengurusnya dengan benar. Berkali-kali presiden berganti hanya memperpanjang cerita kegagalan. Soekarno boleh dikata presiden yang tingkat kegagalannya relatif kecil karena usia negara masih seumur jagung waktu itu. Masih berada pada tahap konsolidasi, trauma peperangan menyebabkan urusan ekonomi belum terlalu jadi perhatian serius. Tapi kehadiran Hatta memberi angin segar pencitraan ekonomi yang bagus, sikapnya yang pro ekonomi rakyat dan koperasi membuat bagus narasi sejarah Indonesia. Cuma ketika mereka 'bercerai' saja tanda-tanda bahwa ada masalah yang terpendam.

Soeharto adalah cerita memalukan, keluarga Cendana yang mengangkangi hutan Indonesia tangannya berlumuran terhadap konversi hutan menjadi lahan sawit. Penggundulan tidak bertanggung jawab luar biasa merubah wajah masa depan Indonesia. Korupsi meraja lela menjadi budaya, ekonomi sangat berbiaya tinggi. Presiden selanjutnya hanyalah kelanjutan cerita kehancuran, tidak tahu malu bahkan aset negara dijual dengan murah ke pihak musuh (baca: tetangga).

Budaya, korupsi telah menjadi mental dan budaya di sebagian besar birokrat. Tidak bisa dipungkiri, karena kalau anda masuk ke wilayah yang berhubungan dengan mereka anda tidak bisa mengatakan bahwa hal tersebut (korupsi) tidak terjadi. APBN, APBD yang sejatinya adalah sumber dana pembangunan tingkat efektivitas untuk memberi efek perubahan tidak sampai 10%. Yaa gitu-gitu aja, projek pembangunan berapapun, urusan potongan dan suapnya sangat panjang. Karena hitung-hitungannya bisnis, maka ujung-ujungnya pelaksanaan proyek yang sangat dibawah standar, pemborosan pembangunan terjadi. Sebagai contoh, untuk sebuah projek pengadaan kecil senilai 25 juta saja (yang bisa penunjukan langsung) -- birokrat sudah meyiapkan CV yang bisa ditunjuk, menyiapkan skema potongan dari mulai kapala SKPD, Pimpro, belum pejabat-pejabat wilayah jika pengadaan untuk keperluan sampai level kecamatan/ kelurahan. Yang asli untuk projek? hitunglah sekitar 70% saja, dipotong keuntungan CV yang megang projek? habis!!!

Projek bernilai besar juga ada cerita korupsi dan pemotongan yang jauh lebih dahsyat. Masih ingat Nazarudin? itu hanya bagian kecil .. cerita nyatanya bahkan lebih dahsyat dari itu. otomatis pembangunan akan jalan di tempat. Masih syukur kalau tidak pembangunan negatif (kemerosotan). Indonesia bangkrut. Inefisiensi luar biasa. Apa solusinya? guntinglah masalah-masalah tersebut. Bersihkan birokrat bermental korup, mungkin 70% diantara semua birokrat, sanggup?


Minggu, 09 Oktober 2011

Sedekah Rombongan


Di twitter, saya memfollow @saptuari, liat TL-nya saya bisa menyimpulkan bahwa Raden yang Oraningrat ini merupakan pebisnis yang cukup kreatif. Uniknya, bersama beberapa motivator, mas Sap berhasil memboomingkan semangat bersedekah, pokoknya agar kaya maka bersedekah. Terserah beberapa kritik yang mengatakan bahwa syariat menjadi kering dengan kehadiran generasi ini, tapi daripada hanya mendiskusikan dan menzikirkan dalam tataran teori lebih baik membuat action macam ni. Bagaimana serombongan uang kas mengalir kearah kaum papa yang jelas ini akan menghadirkan kondisi perimbangan ekonomi yang baik. Jika gerakan model ini mengakar dan mempengaruhi begitu banyak orang maka kondisi ekonomi secara makro akan semakin baik berhubung kesenjangan ekonomi akan dipersempit.

Perekonomian yang memiliki nurani sangatlah membahagiakan. Inilah yang disebut Qaradawi bahwa ekonomi adalah cita-cita ilmu dimana akhlak dihadirkan dalam aktivitas-aktivitas berekonomi. Dalam gerakan #sedekah rombongan, seakan-akan amal sholeh dan pahalnya divisualkan, membuat beberapa orang yang kelihatannya awam syariat menjadi terpengaruh dan terdorong mengikuti gerakan ini. Bagai gerakan Muhamad Yunus yang membangkitkan usaha mikro kecil di Bangladesh.

Sosial media selain mampu menghilangkan kejenuhan, telah berhasil mengangkat omzet bisnis Maicih sampai angka milyaran, tapi juga bermanfaat sangat untuk mensosialisasikan nilai-nilai baik dengan komunikasi intens. Pesan-pesan baik disampaikan atas nama pertemanan. Seorang pakar dan Ilmuwan tidak lagi menjadi menara gading ketika setiap orang dapat mem-follow terus menerus pemikirannya. Ide dan pemikiran akan teruji disini.

Di buku Rhenald kasali, tentang Wirausaha Muda Mandiri disebutkan bahwa teknik ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) sangat efektif untuk mempercepat sebuah ide dan kreatifitas berjalan. Untuk percepatan ekonomi, duplikasi ini nampaknya harus didorong untuk melipatgandakan daya ledak ekonomi menuju kesejahteraan. Terkadang, ekonom harus membebaskan dirinya dari kungkungan teori ekonomi yang rigid, tidak out of the box. Ekonomiharus mendapatkan wadah kreativitas yang baik sehingga menimbulkan variasi yang menawan. Anis Matta menyebut ilmu sosial bagaikan bermain air, basah ditangan tapi susah digenggam. Dia susah digenggam ketika tidak bertemu dengan realitas. Ilmu sosial butuh pengejawantahan yang nyata dan kontinyu. Kreativitas-kreativitas langkah ini bagaikan super multiflier effect yang bagus menjadi pengungkit perekonomian sebagai alat kesejahteraan.