Senin, 08 November 2010

Backpacker-'tas gembong'er atau turis miskin


"Manusia masa depan adalah pejalan jauh"

Yep..melakukan perjalanan akan membuat kita memiliki wawasan yang oke, wawasan geografi, sosial, budaya dal lain-lain (you named it). Kalau di negara-negara maju, ini udah semacam tradisi dan dilakukan banyak anak yang baru lulus tingkat SMA, sebelum mereka masuk college--biasanya selama setahun mereka lakukan perjalanan miskin ini. Mungkin karena keturunan nenek moyang mereka yang hobi jalan-jalan (untuk menjajah)..mereka juga sekarang melakukan perjalanan untuk memperluas pengalaman menikmati keindahan tempat-tempat yang jauh dari rumahnya dan belajar untuk mandiri. Terbukti mereka tumbuh menjadi orang-orang percaya diri dan relevan dengan kemajuan yang mereka dapat. Di bagian ini, nampaknya anak muda harus dibiasakan melakukan back packing, agar li ta'arofu, menambah wawasan dan menambah kecintaan mereka terhadap negerinya--jadi kunjungilah dulu pulau-pulau di Indonesia (ada 17.000 buah lho), baru setelah itu kita bisa keliling dunia untuk mensyukuri betapa hebatnya negeri kita ini.

Bagian yang pentingnya juga, agar kita pandai budgeting dan kerja untuk mengumpulkan biaya travelling. Selamat menjadi turis!!

Kemandirian Ekonomi

Dalam sebuah rilisnya, Econit melaporkan bahwa pada tahun 2007 ada sekitar 37,17 juta penduduk Indonesia yang pengeluaran per harinya Rp 5.565,00 per hari untuk biaya hidup (didalamnya termasuk untuk makan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain)sementara di sisi lain ada 150 orang yang kalau digabungkan asetnya sebesar Rp 419 trilyun atau sekitar setengah APBN Indonesia. Apa Coba? Udah lah luapakan yang 150 orang itu, yang bikin miris adalah 37 jutaan orang tadi, mengapa mereka seperti itu?

Masyarakat kalangan bawah tersebut sudah pontang-panting kerja tetap aja dapetnya segitu, ini karena keterampilan yang dimiliki sangat terbatas sehingga rentang peluang pekerjaan yang didapatkan juga sangat terbatas. Karena itu perluy diberikan pelatihan-pelatihan keterampilan yang aplicable, dan jangan lupa diberikan dana stimulan untuk merintis usaha.

Jangan sampai masalah ini lama kelamaan menjadi ledakan masalah sosial yang membahayakan. Sok atuh, pa beye..kerja..kerja!

Rabu, 03 November 2010

Budaya Suap

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Suap artinya uang sogok, uang pelicin. Cara yang diambil untuk memudahkan suatu urusan dengan cara yang tidak halal-menyogok dengan uang atau materi lainnya. Konon, bangsa ini termasuk yang memiliki 'prestasi' suap dengan ranking yang cukup tinggi. Ada istilah " di negeri ini semua bisa diatur!" Sebuah kenyataan yang membuat miris ketika kita mengetahui bahwa disisi lain citra masyarakat kita adalah masyarakat yang ramah dan relijius. Memang, kalau sifat ramah tidak menegasikan kebiasaan suap, tapi relijius? apakah kesadaran keagamaan kita secara kolektif menjadi tidak berpengaruh kepada habit suap menyuap kita? Secara ekonomi suap memberikan efek ekonomi berbiaya tinggi, segala urusan menjadi sangat mahal karena harus ditambah dana tak terduga selain kebiasaan suap juga menyebabkan tidak adanya kepastian hukum.

Membiarkan fenomena ini terus berlangsung sama saja dengan membiarkan kita sebagai bangsa jatuh pada jurang kenistaan, harga diri bangsa akan sangat jatuh. Menyadari hal tersebut sebagai penyakit yang harus dibasmi adalah sebagai langkah pembuka. Secara normatif usaha ini sedang diupayakan.



Sekarang..plang atau pengumuman seperti gambar diatas sudah mudah kita temukan terutama di instansi-instansi pemerintah. Fenomena ini tentu saja sangat menggembirakan asalkan bukan hanya hiasan saja tapi diwujudkan dalam kenyataan.

"Allah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap".

Hadits diatas seharusnya menjadi inspirasi penguatan moral kita, selain juga sebagai sumber pemahaman betapa merugikannya aktivitas yang bernama suap menyuap ini. Fakta menunjukkan bahwa korupsi dan budaya suap telahmerajalela di negeri ini, sebagai ilustrasi Kompas pernah membuat gambaran sebagai berikut:



Semacam gurita yang kakinya sudah kemana-mana. Dampak buruknya sudah nampak jelas kelihatan:
1. Ekonomi biaya tinggi
2. Menyebabkan tidak ada kepastian hukum karena hukum jadi bisa diatur dengan uang
3. Memberikan efek domino pelaku korupsi yang meluas
4. Ketidakpercayaan pihak luar untuk berinvestasi
5. Buruknya kualitas pembangunan karena pemotongan proyek, anggaran dan lain sebagainya
6. Dan lain-lain dengan dampak yang luas

Maka sangat jelas, suap merupakan penyakit kronis perekonomian. Hitung-hitungan rumus ekonomi menjadi tidak efektif lagi ketika faktor x ini hadir dalam kegiatan ekonomi.Hukum permintaan dan penawaran akan terganggu dengan hadirnya uang-uang siluman ini...lalu bagaimana solusinya?

Jawaban pertama yang mungkin disuguhkan adalah pendidikan. Pemahaman tentang bahayanya budaya ini harus disosialisasikan secara merata. Karena ilmu akan mendahului kerja. Aktivitas apapun yang didahului dengan pengetahuan akan menjadi lebih baik tentu saja yang saya maksud dengan pengetahuan disini adalah pengetahuan yang tidak mendikotomikan antara ilmu dunia dengan ilmu agama. Ilmu agama memberikan landasan moral bagi kehgidupan. Tidak boleh lagi ada ilmu yang berkembang tanpa moral agama. Langkah-langkah selanjutnya seperti regulasi dan lain sebagainya bisa mengikuti setelah pondasi pengetahuan dan agama terbangun dengan baik.