Rabu, 30 Maret 2011

nilai tambah, multiflier, leverage

Kata-kata diatas adalah kata-kata positif dalam dunia ekonomi dan produktivitas. Jika dikaitkan dengan kemungkinan seseorang mendapatkan penghasilan yang cukup baik untuk meningkatkan kesejahteraan hidup maka kata-kata diatas adalah kata-kata yang harus mendapat perhatian semestinya.

Apa hal yang membedakan orang-orang kaya dengan orang miskin? Kenapa dengan usaha yang lebih ringan dari orang kaya sulit diimbangi oleh kerja keras orang miskin dalam hal penghasilan? jawabannya adalah seberapa besar leverage (daya ungkit yang dimiliki) atau nilai tambah yang bisa diberikan?

Ternyata, meminjam kata Kiyosaki, seberapa besar uang yang masuk ke kantong kita ditentukan oleh tingkat kecerdasan kita dalam menciptakan leverage. Menciptakan daya ungkit. Membuat lembaga, wadah atau perusahaan. Membangun jaringan pemasaran. Membuat cabang-cabang penjualan adalah cara meningkatkan leverage. Atau barangkali anda menciptakan berbagai sumber penghasilan dengan waktu yang digunakan jumlahnya sama. Kekurangan kita dalam menciptakan leverage akan menyebabkan habisnya tenaga, akal atau waktu dalam mengejar target. Ingat, waktu adalah resourses yang terbatas, sementara akal, kreativitas, kemampuan berpikir ga ada matinye.

Kamis, 17 Maret 2011

Peran Kewirausahaan

Kewirausahaan memiliki peran penting dalam memajukan ekonomi tanah air. Apalagi, kemajuan ekonomi merupakan salah satu faktor utama yang dapat meningkatkan martabat bangsa di tengah pergaulan bangsa. Demikian paparan Jusuf Kala dalam penganugrahan gelar doktor honoris caura di UPI Bandung baru-baru ini. Ekonomi Indonesia memiliki skala yang paling besar di Asia Tenggara sehingga masuk dalam kelompok G-20 (negara-negara dengan volume ekonomi yang besar di dunia).

Namun demikian, kita masih memiliki banyak agenda yang harus segera diselesaikan untuk lebih memajukan bagsa ini. Kita harus menguatkan perekonomian masyarakat, karena semakin maju dan kuat ekonomi kita, maka kita semakin disegani bangsa-bangsa lain. Kemajuan ekonomi hendaknya tidak dicapai dengan semata berusaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui pasar bebas tetapi harus mampu mengangkat martabat mereka yang kurang beruntung dan kalah dalam pertarungan kekuatan-kekuatan ekonomi.

Perekonomian nasional harus dibangun dengan basis kekuatan ekonomi pada level grass root, menguatkan ekonomi KUKM yang menggambarkan kekuatan mayoritas perekonomian bangsa, memiliki satu dua industri power house memang aan dapat menjadi lokomotif kemajuan perekonomian bangsa tetapi basis yang kuat pada level masyarakat terbawah akan mengangkat lebih cepat lagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selasa, 15 Maret 2011

Usaha Pertokoan di Indonesia


Hari ini Kompas.com menulis bahwa meskipun mengalami penurunan jumlah toko yang menjual barang-barang konsumen sebesar 1,3 persen dari tahun lalu, jumlah toko di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah India. "Jumlah toko (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta toko," jelas Nielsen Executive Director Retail Measurement Services Teguh Yunanto di Jakarta, Selasa (15/3/2011). Kondisi ini cukup menggembirakan karena itu berarti fungsi kewirausahaan cukup moncer di Indonesia. Hal ini perlu didorong secara maksimal agar berbanding lurus dengan perkembangan perekonomian di Indonesia. Walaupun demikian, ketimpangan masih terjadi dalam penyebarannya, seperti dapat diduga bahwa toko-toko tersebut banyak dibuka di wilayah Jawa dan Bali sementara di wilayah lain masih jauh tertinggal.

Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Namun, Teguh menjelaskan, ritel lebih tumbuh di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket. Ritel modern tumbuh 38 persen dengan 18.152 toko di Indonesia, dibandingkan tahun 2009. Dari jumlah tersebut, sekitar 16.000 toko merupakan minimarket. Namun format ritel modern lainnya, seperti supermarket justru turun 6 persen, sedangkan hypermarket tumbuh 23 persen dengan 154 toko. Rupanya pasar modern merambah dengan sangat cepat, apakah kondisi ini sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia secara keseluruhan?

Jika perkembangan yang pesat terjadi di minimarket, super market bahkan hypermarket bisa dipastikan bahwa perkembangan tersebut hanya berurusan dengan jumlah pengusaha yang sedikit. Karena pasar ritel kelas minimarket hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan saja seperti alfamart, yomart, borma dan lain sebagainya. Kondisi ini tidak merembet ke Pasar Tradisional dan warung yang kondisinya semakin melarat, mudah tumbuh tapi juga mudah hancur. Ekonomi kerakyatan baru akan tumbuh jika pertumbuhan toko ini adalah toko-toko yang dimiliki oleh perorangan atau rumahan. Harus ada upaya Pemerintah untuk memproteksi KUKM ini, dengan menumbuh suburkan koperasi maka ekonomi kerakyatan akan bertumbuh dengan lebih baik.

Selasa, 08 Maret 2011

Kapasitas Manajemen Penyelenggara Negara



Definisi Managemen
Mary Parker Pollet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan mengenai orang lain. Stoner mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Key words disini adalah proses, sebuah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Sehubungan dengan kapasitas penyelenggara negara kita, mampukah mereka melakukan pekerjaan tersebut?

Saya yakin diantara yang mampu menjalankan manajemen secara efektif adalah kalangan manager swasta, mungkin karena profit oriented yang dimiliki perusahaan swasta. Beberapa teknik terbaru dalam bidang manajemen dengan cepat dapat diterapkan di perusahaan swasta. Bagaimana dengan perusahaan atau lembaga pemerintah?

Kiyosaki mengatakan bahwa diantara jenis pekerjaan yang aktivitas kerja tidak berbanding lurus dengan hasil, adalah Pegawai Negeri Sipil. Dengan posisi ini, mungkin para PNS berpikir bahwa 'saya sibuk atau nganggur tetaplah tak akan mengubah besar gaji saya'. Kondisi inilah yang menyebabkan kinerja birokrat relatif mandeg dan homogen. Ukuran-ukuran kesuksesan birokrat seringkali tergantung hal yang bersifat politis. Akhirnya, tarik menarik kepentingan menjadi credo dalam manajemen para Pegawai Negeri Sipil.

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA)

Digugatnya Gasibu baru-baru ini telah menyadarkan kita semua betapa aset-aset yang dimiliki pemerintah tidaklah aman, belum lagi keterbengkalaian aset-aset di daerah di seluruh Jawa Barat. Berdasarkan survey aset yang dilakukan banyak aset-aset di daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah tidak terkelola dengan baik, jangankan menghasilkan pendapatan untuk Pemprov, keberadaan secara legal formal pun menjadi tanda tanya.

Beberapa BUMD yang menguasai aset-aset daerah harus didorong untuk mengefisienkan dan meningkatkan kemampuannya memberikan profit untuk pemerintah sebagai pemegang saham perusahaan-perusahaan tersebut. Penanganan BUMD yang terkesan asal-asalan dan tidak profesional menyebabkan dari tahun ke tahun tidak dapat mencetak laba bahkan menjadi beban Pemerintah karena terus menerus disuntik penyertaan mnodal sampai mnilyaran rupiah. Diantara BUMD yang disorot adalah PD Jawi yang menguasai 144 aset daerah belum dapat memberikan feedback yang optimal dengan penyertaan Pemda sebesar 48 milyar.

Dengan penguasaan aset bernilai sekira 7 triliunan, Direksi PD Jawi harus bekerja secara profesional. Mengatasi handicap yang selama ini menjadi penghambat kemajuan. Diantara strategi tersebut bisa diterapkan Sistem Informasi Pengelolaan Aset. Dengan sebuah program terpadu maka aset-aset yang terlantar serta tidak memberikan keuntungan dapat direvitalisasi. Dengan sistem berbasis GIS (geografical Information System) ataupun berbasis web, maka direksi akan memiliki asupan informasi yang akurat dan cepat untuk kemudian dieksekusi menjadi sebuah kebijakan manajemen. Dengan langkah ini, maka penyelenggaraan manajemen akan bergerak menjadi dinamis serta profesionalisme akan lebih mudah ditampakkan ke permukaan.

Hambatan psikologis yang menganggap bahwa jika mengelola BUMD berada pada zona nyawan yang tidak perlu dinamis harus segera didobrak. Pihak Direksi yang tak mau repot dengan menjalankan teknologi baru yang akan 'menambah' pekerjaan dan tuntutan ketepatan serta kecepatan harus segera direformasi. Dengan gerak yang dinamis ini diharapkan BUMD sebagai Badan Usaha yang memberi peranan terhadap kemajuan perekonomian akan semakin mudah terwujud.

SIMA
Sistem Informasi Manajemen Aset adalah sebuah aplikasi pengelolaan aset yang ditujukan untuk perusahaan besar atau BUMN/BUMD dengan jumlah aset banyak yang seharusnya memerlukan sebuah divisi sendiri untuk pengelolaan aset tersebut.

Keunggulan SIMA
• Aset berjumlah banyak dan tersebar secara geografis
• Aset memiliki penanganan (treatment) yang spesifik
• Aset memiliki “nilai” tertentu dikaitkan dengan posisi geografis
• Aset memiliki masalah-masalah legal yang berbeda-beda
• Tertib Administrasi, Seluruh data/atribut aset tercatat dengan baik, manageable, penanganan simultan dalam satu periode, up-to-date (selalu terbarukan), proses pengelolaan data cepat
• Sistem Informasi Eksekutif,
• Kemudahan untuk pengambilan keputusan atas aset (misal untuk untuk kepentingan utilisasi, investasi, penataan kawasan (estate management),
• Kemudahan dalam analisis aset, terutama melalui pendekatan ruang dan potensi ekonomi wilayah, sehingga dapat ditentukan kebijakan terbaik.

Senin, 07 Maret 2011

Reshuffle

Reshuffle maknanya penggantian, sebagai kata ia adalah biasa mengganti satu hal dengan hal lainnya, tetapi kalau hari-hari ini kita bicara tentang reshuffle maka ini adalah bahasan yang sedang hangat. Reshuffle merupakan alat ancam mengancam, sebagai Partai Terbesar suaranya (kemungkinan sekarang semakin menipis)yakni Partai Demokrat, menjadikan isu ini sebagai dalil untuk menghukum puhak-pihak yang dianggap bertentangan dengan keinginan politik mereka. Kini kalimat ini sebagai alat ancam mengancam.

Saya sepakat dengan pernyataan J Kristiadi yang mengatakan bahwa beberapa analisis yang dikemukakan merupakan analisis yang dangkal, analisis boong-boongan. Tidak akan terjadi reshuffle (kata beliau) dengan beberapa alasan:
1. Tidak ada pengaruhnya sama sekali isu ini dengan perhatian terhadap masyarakat. SBY benar-benar telah abai dengan isu kesejahteraan masyarakat, mereka lebih suka memainkan kartu bagaimana caranya agar dapat mempertahankan pemerintah dengan nyaman sampai 2014
2. SBY tidak akan berani, karena ongkos yang dibayar menjadi sangat mahal. Memangkas PKS yang dinilai ideologis sama saja dengan menumbuh suburkan partai-partai bebek, yang tidak tahu konsep bagaimana membangun bangsa dengan benar
3. Menuruti keinginan beberapa orang oknum Partai Demokrat (seperti Ulil, Anas dan sebagainya) sama saja memegang bola panas. Mengusir teman seperjalan yang kritis sambil memelihara 'brutus' politik semacam Ulil dsan Anas.
4. Jika PKS berada diluar koalisi, maka mereka akan lebih galak dan SBY akan dibuat sibuk. Golkar (kalau dipertahankan) tetap akan bersikap mandiri. PD tidak bisa lagi mengemis-ngemis untuk disuapi dan dilindungi, toh kalaupun Gerindra yang masuk (koalisi) maka SBY akan kerepotan beradu pamor dengan Prabowo.
5. Jika PKS di luar maka hal tersebut akan memperkokoh 'musuh-musuh' politik SBY. Kita tahu kalau RI 1 itu banyak musuhnya karena telah melangkahi beberapa angkatan di tentara, kemudian telah ada momentum SBY bersebrangan dengan para tokoh dan pemuka agama

Lebih penting lagi, keinginnan untuk gonta ganti menteri akan menjadi sangat tidak efektif, apalagi kalau bicara masalah menyelesaikan agenda menyejahterakan masyarakat, maka Pemerintah akan sangat kerepotan. Maka, berpikirlah wahai kalian para politikush!!!!!