Sabtu, 26 November 2011

Step-by-Step Problem Solving

STEP BY STEP PROBLEM SOLVING

Menghindari proses problem solving yang berulang dan jatuh ke masalah yang sama berulang-ulang menyebabkan kita perlu sebuah teknik penyelesaian masalah yang sistematis. Mengapa kita perlu Model problem solving yang sistematis? Jendral George S. Patton mengatakan: “Jika kamu mengatakan kemana orang yang harus pergi tanpa menyebut bagaimana cara sampai ke tempat tersebut, kamu akan terkejut dengan hasilnya.” Teori Patton ini dapat diinterpretasikan dengan dua cara:

1. Manusia adalah pemikir kreatif dan mungkin memikirkan cara yang sangat beragam dalam mencapai tujuan.

2. Orang dapat mengemukakan alas an, untuk tidak mencapai target karena tidak setuju atau memahami secara salah perintah yang diberikan.

Model Problem Solving 6

Langkah









Berikut ini adalah penjelasannya:

Langkah

Metode

Penjelasan

1. Definisikan Masalah

Definisi

Pernyataan Masalah:

Kondisi yang Diinginkan :

Tuliskan pernyataan masalah yang ada, kemudian nyatakan kondisi yang diharapkan setelah masalah teratasi

Sebuah pernyataan masalah harus memenuhi semua pertanyaan:

· Apakah masalah dinyatakan secara objektif?

· Apakah ada batasan masalah?

· Apakah tiap orang memahami masalah?

Langkah

Metode

Penjelasan

2. Penyebab Potensial



Identifikasi penyebab potensial dan uraikan akar masalahnya

Langkah

Metode

Penjelasan

3. Identifikasi Kemungkinan Polusi

Brainstorming

Tanpa mengevaluasi efektivitasnya, buatlah daftar solusi sebanyak mungkin untuk mendapat solusi terbaik

Langkah

Metode

Penjelasan

4. Pilih Solusi terbaik

Form Kriteria

Krtria

solusi

solusi

solusi

X

X

X

Evaluasi solusi terbaik

Langkah

Metode

Penjelasan

5. Kembangkan Action Plan

Action Plan

What

Who

When

Tulis rencana detail yang menyebutkan tahapan kerja, penanggung jawab, tanggal mulai/akhir, perkiraan waktu

Langkah

Metode

Penjelasan

6. Terapkan solusi dan evaluasi perkembangannya

Action Plan

What

Who

When

Follow up Action Plan memastikan bahwa tahapannya telah dikerjakan

Rabu, 23 November 2011

10 Secrets of Successful Leaders

Fakta menunjukkan bahwa Indonesia dan dunia sedang mengalami defisit kepemimpinan yang mampu membawa dunia pada keadaan yang lebih baik. Pemimpin nasional saling bertengkar, menutupi kekurangan mereka dalam menunjukkan karakter kepemimpinan menyebabkan mereka pergi keluar menunjuk-nunjuk orang dan mencari pelampiasan. Bahkan di dalam perusahaan banyak ditemukan posisi-posisi kunci tetapi sedikit yang memiliki kualitas untuk menduduki posisi-posisi tersebut. Conference Board CEO dalam rilis surveinya mengumumkan bahwa beberapa tantangan dan isu spesifik yang akan dihadapi baik organisasi nirlaba maupun organisasi laba di seluruh dunia menghadapi tahun-tahun setelah 2010, yaitu tantangan globalisasi, kompetisi yang sangat ketat, perubahan besar dalam pengetahuan dan sosial, kemajuan ilmu dan teknologi, serta tumbuhnya diferensiasi dalam tenaga kerja, pelanggan, dan stakeholder.

Donna dan Lynn Brooks mengungkapkan rahasia pemimpin-pemimpin perusahaan dalam hal kepemimpinan. Rahasia-rahasia itu adalah:
1. Berpikir Lintas-Fungsi--memiliki pengetahuan dan memanfaatkannya. Mereka yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga mampu memecahkan masalah dan membuat keputusan. Orang yang senantiasa belajar untuk menghadapi tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.
2. Memaksimalkan gaya kepemimpinan--memimpin dengan gairah, energi, dan kecerdasan emosional. Berkolaborasinya otak dan hati dalam diri seorang pemimpin.
3. Mengelola Jaringan Pengetahuan, orang-orang mengambil peran yang lebih independen dalam proses poertukaran pengetahuan dan tumbuh bersama-sama dalam sebuah organisasi.
4. Meyakinkan, Memengaruhi dan Mengomunikasikan Visi. Pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik sehingga dapat mengenalkan, membimbing dan mengarahkan semua stake holders dalam organisasi menuju visi organisasi.
5. Menciptakan Budaya yang berintegritas dan memiliki nilai. Secara konsisten berusaha mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan dengan tetap berpegang teguh pada standar tertinggi dari etika dan jaminan tanggung jawab.
6. Memimpin dalam lingkungan yang beragam. Orang yang berhasil memimpin sebuah kelompok yang homogen, tapi tidak pernah mencoba memimpin dalam situasi yang lain bukanlah orang yang sudah membuktikan diri. Orang butuh berlatih berkiprah dalam lingkungan yang berbeda-beda. Tantangan yang berbeda-beda. Dia membutuhkan daya lentur yang tinggi sehingga mampu membuat arus yang deras diberbagai jenis lingkungan.
7. Mengembangkan jaringan bimbingan, setiap kita membutuhkan mentor terbaik, maka kita harus membangun jaringan bimbingan yang dapat memberikan advis terbaik. Belajar dari yang terbaik untuk jadi yang terbaik.
8. Memperluas fokus global --
9. Membangun dan memimpin tim berkinerja tinggi, tidak ada yang membuat prestasi yang sangat besar tanpa back up sebuah tim berkinerja tinggi.
10. Memimpin dan bertumbuh dengan baik dalam lingkungan menantang. Jalan mulus dan lurus tidak akan menghasilkan pengemudi yang hebat. Untuk menjadi pemimpin hebat anda butuh tantangan yang lebih.

Buku setebal 244 halaman ini cukup komprehensif untuk memberikan gambaran hebat tentang bagaimana memulai dan merintis jalan pada kepemimpinan yang handal. Sebagai sebuah referensi buku ini layak anda baca.

Man Jadda Wajada: negeri 5 menara

Sebetulnya bolak-balik ke Toga Mas atau Rumah Buku -- buku ini udah sering lihat dan ditengokin anak-anak SMA-an, katanya bagus. Tapi baru minggu kemaren memutuskan untuk beli dan melahap habis. Kebetulan lagi butuh buku-buku ringan di tengah kesuntukan. Begitu membaca, sudah bisa ditebak kalau yang dibicarakan di novel ini utamanya adalah tentang Pondok Modern Gontor. Tidak asing karena banyak temen yang lulusan sana.

Ternyata, cerita santri dalam bentuk lisan maupun tulisan sama saja, kesimpulannya Pesantren ini memang unggul karena keunikannya, walaupun di tahun-tahun terakhir ada penyesuaian bab penerimaan ijazah (mungkin karena desakan orang tua). Novel Negeri 5 Menara adalah cerita tentang Sahibul Menara, sekumpulan anak Alif, Atang, Said, Dul Majid, Baso, Raja yang bersahabat dan menemukan pelataran dibawah menara sebagai tempat yang asyik buat kongkow-kongkow. Pemeran utama dalam cerita ini adalah Alif Fikri seorang anak Maninjau, yang masuk ke Pondok Madani sebagai bentuk pengalihan karena Amak menyuruhnya masuk sekolah agama padahal Alif ingin masuk SMA. Sebuah hal yang klasik.

Sebagai adaptasi dari kisah nyata penulisnya, A.Fuadi -- cerita ini menariknya adalah hal-hal kecil yang terjadi di Pondok yang terlihat hidp karena begitu nyata dirasakan oleh sang penutur. Bahkan bagaimana rasa sambal hijau pake minyak aja jadi bisa dibuat menarik. Di tengah miskinnya bacaan remaja tentang menggapai impian dan cita-cita, novel ini bisa mengisi ruang kosong yang tersedia. Idion Arab Man Jadda Wajada jadi mantra penting yang bisa jadi pelajaran buat pembacanya.

Kalau saya catat beberapa hal penting dari novel ini adalah:
1. Man Jadda Wajada
2. Man Shobaro Zhafiro, siapa yang bersabar akan mencapai tujuan
3. I'maluu fauqo maa amilu, berbuat lebih dari yang orang lain lakukan, agar menjadi sukses. far Excellence lah gitu
4. Man Thalabal 'ula sahiral layali, siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai larut malam
5. Apa-apa yang kami lihat, kami dengar, kami rasakan, kami baca adalah pendidikan
6. Nilai-nilai keikhlasan menyebabkan energi kita melipat lipat
7. Merantaulah untuk mendapatkan ilmu dan adab.

Senin, 21 November 2011

Eliana: Serial Anak-Anak Mamak

"Nak, jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian". Kalimat ini adalah inti sari pesan Tere Liye dari 3 buku yang disusunnya (setidaknya tiga buku yang sudah saya baca - diluar Amelia yang janji Tereliye akan terbit Agustus kemarin). Sebuah kisah bersetting masyarakat Melayu tentang anak-anak Amak Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Keluarga sederhana yang kokoh mengajarkan nilai-nilai kuat yang ditanamkan pada anaknya.

Eliana adalah anak tertua yang dicitrakan sebagai anak yang kuat, semacam do'a dan affirmasi Bapak dan Amak agar Eli tumbuh menjadi apa.. memang setelah besar Eliana tumbuh menjadi seorang pengacara kuat yang bertarung dengan perusahaan pencemar lingkungan layaknya Erin Brokovich. Buku seri Tere-Liye ini memang sangat kuat nuansa pendidikan anak-anak. Asupan yang bagus ditengah kelangkaan buku-buku pengaya jiwa untuk keluarga. Kesannya yang sederhana dalam penyampaian dan lingkungan pedesaan yang akrab dengan wajah kebanyakan masyarakat Indonesia.

Yang paling unik adalah, ketika judulnya Eliana, maka yang berperan sebagai aku adalah Eli. Eliana ini menjadi orang ketiga pada novel yang berjudul Pukat, atau Burlian. Setting berulang, bahkan perkataannya berulang dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Saya membayangkan bagaimana penulis harus membuat riset dan membuat rekaman catatn dengan sangat detil agar tidak ada momen yang terlewat.

Kau Anak Pemberani, begitu affirmasi Bapak sama si Sulung ini menjadi sub paling awal dalam setting cerita Kak Eli. Cerita mengenai bagaimana Bapak bersama tetua kampung harus menegosiasi agar pertambangan di daerah tempat tinggal mereka dihentikan. Dan untuk urusan menegaskan dan mengokohkan affirmasi Bapak, Eliana diajak untuk menyertai. "JANGAN HINA BAPAKKU!" begitu teriak Eliana merangsek ketika ada orang yang mencoba menghina Bapaknya tentang baju lungsuran yang selalu diberikan kepada anak-anaknya. Inilah modal pemberaninya Eliana. Diam-diam orang-orang terkagum-kagum dengan sikap tegas Eli. (itu setting ceritanya ..) dan ada tema-tema kisah lain yang mengalir dengan enak. Pada Modifikasi Foto Lama menunjukkan perhatian Eli terhadap Mamak dan Bapaknya. Novel berjudul Eliana ini digunakan Tere untuk menceritakan kisah cinta Syahdan dan Nurma (Bapak dan Mamak) sebuah Flashback yang menceritakan darimana asal keteguhan sikap, pengetahuan, dan ketabahan mereka berasal.

Ternyata ilmu dagang Mamak yang unik juga secara menarik disajikan disini, bagaimana gaya silaturahim memperkuat rezeki datang, ini adalah gaya Mamak mengajar teori dagang kepada anak-anaknya --praktek. Tentang alam, tentang bagaimana memeliharanya, tentang motivasi berprestasi, tentang cinta, tentang hidup yang penuh warna disampaikan berkelindan di novel ini dan novel berseri yang terbit sebelumnya. Tentang Burlian yang unik, tentang Pukat yang pintar (sok tahu kalau dalam istilah Eliana) dan seterusnya. Buku ini juga masuk dalam daftar buku Goodreads, jadi adalah Good untuk Read this book. Oyeee

Minggu, 20 November 2011

Saga no Gabai Bachan: kearifan orang Cuek Beibeh


“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.” Ini pernyataan Yosichi Shimada -- Sang Penulis tentang intisari nilai yang diajarkan Nenek Osano tentang kehidupan. Yosichi yang besar menjadi Komedian yang terkenal di Jepang berbagi cerita tentang pengalaman hidup masa kecilnya yang terdidik dalam kemiskinan yang ceria bersama neneknya di Saga.

Saya mendapatkan buku ini ketika jalan-jalan wisata buku di BBC Cikutra, cara penyusunan displaynya kurang rapi jadinya saya lupa bagaimana menemukan buku ini, tapi kalo orang bilang Don't Judge the Book by It's Cover, maka saya selalu menilai bagus tidaknya buku dari covernya. Buku ini perwajahannya menarik, ini resep saya --ditengah kebiasaan toko buku men-seal rapi sehingga kita tidak bisa membolak-balik dalemannya. Karena perwajahan menarik itulah saya putuskan mengambilnya. Setelah itu baca bagian belakang buku .. menarik maka tambah poinnya..sikaaat. Ternyata kembali terbukti, buku ini bagus serasa membaca Toto Chan-nya Tetsuya Kuronayagi dalam bentuk yang lain.

Dengan latar pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, kita sangat memahami kalau kondisi masyarakat Jepang saat itu berada dalam kondisi miskin. Masyarakat Jepang pada masa itu bangkit dari keterpurukannya, Nenek Osano adalah salah satu saja dari warisan budaya Jepang yang kukuh. Saya yakin banyak pula model seperti ini di jepang, karena ini adalah salah satu karakter unggulnya. Shimada yang secara menggelitik menerangkan secara pintas tentang ketidakjelasan asal usul ayah 'sebenarnya' dibesarkan oleh seorang ibu yang menjadi pelayan di sebuah restoran atau bar. Ibunya menjadi sosok yang tidak banyak diceritakan disini. Shimada didorong ke Saga dengan sebuah konspirasi menyedihkan dari ibu dan bibinya, maka terdamparlah ia di sebuah gubuk usang dipinggan sungai yang masuk wilayah bekas kerajaan Saga. Dari sinilah cerita pengajaran kearifan lokal dari si Nenek dimulai. Diantara pelajaran pentingnya adalah bagaimana keberterimaan terhadap nasib dengan ceria. Kemiskinan kalau dihadapi dengan muram maka akan semakin menyedihkan, tetapi jika kita menghadapinya dengan ceria maka kemiskinan tetaplah menjadi sesuatu yang menceriakan, atau setidaknya tetap ceria walaupun miskin.

Nenek Osano mengatakan: “Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun-temurun miskin.” Ini tentang Mindset sobat, bagaimana kita tetap percaya diri dalam kemiskinan? intinya apapun kondisinya kita harus tetap percaya diri karena ini sikap yang akan meringankan segala bentuk penderitaan. Tetap percaya diri saat halangan menghadang akan menyebabkan syaraf kita memiliki daya lentur yang tinggi, melihat semua kondisi dengan siap dan menerima apa adanya. Itu Qona'ah namanya. Tak perlu cemas, ketika harta kita hanyalah termos air panas untuk menghangatkan kaki ketika musim dingin, maka ketika tidur simpanlah termos itu di kaki sehingga akan tetap menghangatkan kaus kaki kita, ketika ada tamu, termos yang tadi kita simpan disebelah kaos kaki kita pakai untuk mincurahkan air suguhan, biarlah tamu nya bergidik, tapi kita kan tulus. Kerja keras adalah bagian yang tidak terpisahkan.

Bahkan ketika perut kita berbunyi mengkeret sebagai tanda kelaparan, Nenek Osano cuma bilang ah itu cuma mimpi, tidur sajalah lagi. Luar Biasa Bukan? Ada belasan episode yang diuraikan, masing-masing memiliki pelajarannya sendiri-sendiri.

Tentang efektif dan efisien, setiap perjalanan pergi dan pulang kerja ada suara kelontang kelenteng dari pinggang nenek yang mengikatkan magnet disitu, untuk apa? mengumpulkan paku dan logam bekas agak tersedot magnet, sekali jalan, dua agenda tertuntaskan. “Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” (hal 42)

Tentang supermarket buah dan sayur di sungai depan rumah. Dengan hanya memalangkan seutas bambu di sungai, Nenek bisa mendapatkan menu makanan sehat, baik buah atau sayuran yang tidak sengaja tercecer atau yang sudah rusak atau yang bentuknya tidak sempurna. "Bukankah lobak yang bercabang dua, kalo diiris-iris tetaplah lobak? bukankah apel yang kalo kita buang sedikit bagian busuknya akan menjadi buah apel yang tetap lezat?" Inilah pelajaran mengambil berkah makanan yang diajarkan Nenek Osano, bukankah Tuhan akan marah kalau kita sia-siakan makanan? kita tidak pernah tahu, di bagian makanan yang manakah Allah sisakan keberkahannya.

Selain cerita pelajaran dari nenek, ada juga cerita tentang Shimada sendiri yang mempraktekkan pelajaran efektivitas dan efisiensi Nenek, tentang kecanggihannya mencari uang dari bulus yang ditemukan berkat mengais-ngais sungai dengan kakinya, atau cerita mendapatkan logam-logam untuk sekedar mendapatkan gula-gula dan membeli pensil warna?

Tentang kreativitas mencuri mangga bagi cewek gebetannya yang ternyata dialah yang empunya pohon yang sebenarnya. Inti yang saya dapatkan dari membaca buku ini adalah membesarkan rasa syukur dan membuat parameter baru tentang arti kebahagiaan. Bagaimana dengan anda? sudah membaca buku ini?

Slim & Bill : tentang membangun sekolah berbasis buku

Sabtu kemarin adalah waktu menjalankan 'program nasional', jatah ngajak anak-anak ke perpusatakaan daerah, anak-anak berpesta pora membaca buku-buku kesukaannya, sementara si Aku (ciee..) tenggelam membaca buku Slim n Bill nya Hernowo. Sebetulnya udah lama membaca sekilas buku ini, tapi baru sekarang --secara kebetulan-- dapat mengunyah lebih serius.

Buku ini tentang bagaimana Pak Bill berdiskusi dengan Bu Slim tentang membangkitkan perpustakaan sekolah, lewat gaya percakapan ini Hernowo menyajikan teorema-teorema pembelajaran dengan mengibaratkan para pakar datang langsung ke acara seminarnya sekolah Pak Bill berbicara langsung tentang kaidah-kaidah serta pentingnya mengunyah buku dengan lebih baik.

Diawali dengan menginformasikan tentang pentingnya aktivitas baca tulis untuk proses pendidikan di sekolah. Begitu intisarinya .. kegiatan baca tulis adalah kegiatan mendasar dalam mengefektifkan pendidikan sekaligus dapat berperan penting dalam kehidupan. Hernowo mengompori pembaca untuk menilai ulang aktivitas interaksi mereka dengan buku, digambarkan bagaimana pentingnya kegiatan menulis sebagai bentuk pengikatan makna, mengukur seberapa jauh pemahaman kita terhadap buku yang kita baca. Sering kita dapati bahwa aktivitas belajar bahasa Indonesia tidak mendekatkan pembaca dengan aktivitas baca tulis, bahkan cenderung menjadi kegiatan literasi tipis-tipis saja.

Salah seorang ahli yang ditampilkan disitu mengatakan bahwa menulis secara bebas memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kestabilan psikologis seseorang. Kemudian, membaca buku dapat mempertautkan antara satu bagian pengetahuan dengan bagian pengetahuan yang lainnya, maka utuhlah pemahaman kita tentang ilmu.

Menulis adalah upaya kita mengkonstruksi atau menyusun pemahaman kita atas pelbagai pengetahuan yang terkait dan cocok dengan diri kita sendiri. Satu hal yang masih asing terjadi di sekolah-sekolah kita. Bangku sekolah tidak secara khusus mengajak siswa-siswinya mencintai kegiatan literasi --meminjam istilah Gola Gong-- tanpa kegiatan membaca dan menulis dunia akan terasa hampa. Masih untuk ada sekelompok anak remaja yang menyukai chicklit atau komik, jauh banget deh kalo urusan buku-buku berat. Lebih banyak diantara mereka yang menjadikan kegiatan menulis sebagai barang asing. Makanya kegiatan yang membangkitkan gempa literasi yang dikembangkan Gola Gong perlulah mendapatkan dukungan yang maksimal. (menyimpang dikit ya..).

Hernowo --masih di buku ini-- membawa pesan tentang pentingnya perpustakaan dihadirkan sampai ke pelosok, tetapi dengan catatan bahwa buku-bukunya harus menarik dan kontekstual. Buku yang disajikan di daerah pesisir nampaknya lebih relevan kalau menyajikan lebih banyak buku tentang pengolahan ikan laut, cara menangkap ikan dan konservasi terumbu karang. Menyamaratakan daerah bersama kebutuhannya adalah pemikiran yang naif. Keberadaan perpustakaan di desa sangat penting, selain agar dapat menyerap informasi juga sebagai sarana mengolahragakan otak mereka. Bukankah otak masyarakat perlu diolahragakan agar lebih berotot untuk kritis terhadap kehidupan?

Siapa yang harus diandalkan menjalankan peran menyajikan buku yang menarik dan kontekstual itu? Para Pustakawan tentu saja. Sayangnya para pustakawan tersebut belum menjalankan perannya dengan baik. Mereka belum tentu orang yang doyan membaca buku-buku sehingga sehingga dapat mensarikan dan menginformasikan buku mana saja yang menarik dan kontekstual untuk pengunjungnya.

Yang lebih menarik lagi adalah tentang temuan DR Taufiq Pasiak (masih di buku ini) yang menyatakan bahwa sifat-sifat jelek seperti sombong, iri, dan kikir dapat merusak otak, sama kuatnya dengan keganasan tumor otak. Aktivitas membaca (apalagi menemukan dan mengartikan pengertian kata-kata yang baru) akan menyalakan otak. Luar Biasa!

Buku ini secara keseluruhan dapat menjadi penyala untuk perbaikan proses pendidikan dan produksi masyarakat pembelajar yang lebih baik. Insya Allah. @bangunperadaban

Sabtu, 19 November 2011

Garis Batas: backpacker dengan nalar

BackPacker Mendalam

Membaca buku Agustinus bagaikan membaca kisah perjalanan yang dihayati secara mendalam. Jika kita membaca buku travel dari backpakeran yang lain terasa ada suasana pop, melakukan perjalanan didominasi oleh mencari kesenangan dan biasanya tempat yang dikunjungi adalah tempat resmi yang direkomendasikan pariwisata. Berbeda dengan kelananya Agus yang melakukan kunjungan sembari mencerna arti perjalanan.

Tema Garis Batas adalah benang merah buku tebal 510 halaman ini. Kalau kita membaca sejarah tentang Uni Sovyet, maka kita akan mendapatkan informasi sebuah negara raksasa 'dingin' yang kejam. Membangun kesuperpoweran dengan tangan besi, wilayahnya begitu tertutup untuk masyarakat luar. Setelah Uni Sovyet bubar dan trepecah-pecah menjadi beberapa negara yang baru, persoalan garis batas tiba-tiba menjadi persoalan yang sangat dshsyat terhadap perikehidupan bangsa Stan yang mendiami wilayah Asia Tengah tersebut. Seakan-akan identitas kebangsaan menjadi sesuatu yang harus dibangun sejak awal, sisa-sisa keadikuasaan Sovyet tiba-tiba sirna.

Dimulai dengan membahas Sungai Ammu Darya yang memisahkan Afghanstan yang tertinggal, alat transportasi keledai melalui tebing yang menakutkan, sementara seberang sungai tergambar suasana jalan yang mulus dan listrik yang benderang. Jarak seratus meteran memiliki arti sebagai pemisah antara selimut debu Afghanistan dengan kemodernan negeri Stan yang baru. Secara jeli Agustinus menggambarkan peranan dan keanehan sekaligus yang diberikan dari penarikan garis batas antar negara.

Di bab pertama, diperkenalkan Tajikistan yang muram, dalam bayangan pembaca Tajikistan adalah sebuah negara dengan dominasi pegunungan yang hanya cocok digunakan untuk menggembalakan ternak, luas negara yang luas dengan penduduk dan wilayah yang bisa ditempati sedikit saja. Sungguh kesepian orang yang 'berjalan-jalan' disana. Tajikistan adalah negara yang kecil, dunia lupa siapa dia. Gaya Uni Sovyet masih tersisa, orang asing yang datang harus dicatat akan tinggal dimana, mau kemana saja, dengan siapa, berapa lama dan untuk tujuan apa. Seakan-akan mereka enggan dikunjungi oleh orang luar. Harga-harga dibedakan atara orang Tajik dengan orang Asing. Dushanbe adalah mutiara yang jadi pusat Tajikistan, dibanding negara Stan lain Tajikistan adalah yang terkecil dan termiskin, Somoni adalah mata uangnya, seperti negaranya, mata uangnya juga lemah.

Agustinus begitu rinci, bagaimana sulitnya melakukan perjalanan di negeri-negeri Asia Tengah ini terekam dengan baik. Mendalamnya Penulis dalam melakukan perjalanan terlihat dari keakrabannya dengan penduduk setempat, memiliki kenalan yang dipertemukan ditengah perjalanan, sehingga dapat menyerap suasana asli negara-negara yang dikunjungi. Kita dapat membedakan bagaimana Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan maupun Turkmenistan.

Kepapaan orang Tajik, kemegahan Kazakhstan sampai utopianya Turkmenistan tersaji dengan baik. Garis batas yang dibuat menyisakan pulau-pulau aneh ditengah daratan. Bagaimana dua desa yang hanya dipisahkan oleh sebuah gang bisa memiliki provider telpon yang berbeda dan untuk berkunjung secara resmi orang harus punya visa!! Membaca buku ini akan membuat pembacanya belajar tentang kearifan lokal dan sedihnya masyarakat yang tercerabut dari akarnya.

Bagaiman mereka yang mengaku beragama Islam tapi tidak mengenal arti tulisan arab Allah atau Muhammad, mereka tidak mengenal sedikitpun tulisan Arab, mereka tidak berpuasa ketika Ramadhan dan tidak dapat terlepas dari vodka bahkan pada waktu Hari Raya! luar biasa.

Atau cerita tentang Turkmenbashi yang menjadikan Ruhnama sebagai kitab suci, proyek menggantikan nama jalan, nama bulan dengan tiba-tiba. Masyarakat tiba-tiba miskin karena terkena proyek negara secara tiba-tiba. Foto Turkmenbashi dimana-mana dan meyakinkan masyarakatnya bahwa merekalah pusat dunia. Pokoknya buku ini adalah a must read book deh. bagus.



Jumat, 04 November 2011

Untung Rugi Pariwisata

Ribut-ribut soal memasukkan Komodo jadi salah satu 7wonders tentu saja bukan untuk gaya-gayaan, selain memperkenalkan ikon Indonesia - pasti ada kepentingan pariwisata disitu. Bicara pariwisata maka ada sisi keuangan disana, betapa banyak devisa yang bisa dihasilkan dari kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Agustinus Wibowo, backpacker yang sudah melahirkan 2 buku perjalanan ke Afghanistan dan Asia Tengah (Selimut Debu dan Garis Batas) menuliskan bahwa pariwisata memberikan dampak ekonomi, budaya Eagle Hunting yang hampir punah kembali marak di Mongolia karena untuk memenuhi tuntutan wisatawan Asing, dan Indonesia memiliki peluang pariwisata yang sangat banyak, maka bisa memanfaatkan peningkatan kunjungan wisatawan manca negara, tapi -katanya- pariwisata memiliki dua efek yang saling berlawanan. Satu sisi memberikan tambahan pemasukan devisa tapi disisi lain pariwisata dapat membawa sampah budaya.

Lihatlah Thailand yang menjadi sangat permisif terhadap Laddy Boy (Banci yang merubah kelaminnya jadi perempuan), menjadi negara dengan budaya yang sangat asing di Asia Tenggara. Terlalu bebas. Tentu saja kita tidak menginginkan efek-efek itu terjadi. Bagaimana agar pariwisata tetap marak tapi infiltrasi budaya tidak kebablasan?

Mau tidak mau masyarakat kita harus memiliki karakter yang sangat kuat sehingga yang terjadi adalah para wisatawan yang mengikuti budaya yang ada, bukan sebaliknya budaya kita tergadaikan karena lembaran dollar. Disini dibutuhkan strategi yang terpadu lintas departemen. Departemen Pariwisata jangan dibiarkan sendirian, karena disana akan berhubungan dengan Departemen Perhubungan yang mengatur moda yang compatible dengan peningkatan wisatawan asing, ada peran Departemen Pekerjaan Umum yang membangun infrastruktur sehingga perjalanan pariwisata menjadi lancar jaya. Ada juga urusan Diknas yang harus membuat pembentengan yang sangat memadai dengan mengokohkan karakter bangsa dan anak-anaknya.

Kita harus berhitung ulang disini, jangan sampai pembangunan yang terjadi adalah pembangunan tanpa arah menyedot sumberdaya dengan semena-mena dan seenak-enaknya tanpa memperhatikan side effect-nya.